RSS
Post Icon

CLASSICAL CONDITIONING IVAN PETROVICH PAVLOV






 "Eksperimen Pavlov yang sangat berkembang di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang pencernaan, sehingga dikenal dengan teori Clasical Conditioning, sehingga dalam sejarahnya ia dikenal sebagai ilmuan besar Rusia yang berhasil meraih Nobel pada tahun 1909 dalam lapangan ilmu fisiologi. Ia memandang ilmu pengetahuan sebagai sarana belajar tentang berbagai masalah dunia dan masalah manusia. Peranan dari ilmuwan menurutnya antara lain membuka rahasia alam sehingga dapat memahami hukum-hukum yang ada pada alam."


Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefenisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan model-model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Banyak telah ditemukan teori belajar yang pada dasarnya menitikberatkan ketercapaian perubahan tingkah laku setelah proses pembelajaran.
Teori belajar merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang pengkondisian situasi belajar dalam usaha pencapaian perubahan tingkah laku yang diharapkan. Teori belajar yang berpengaruh terhadap pelaksanaan pembelajaran adalah teori belajar konstruktivisme dan teori belajar pemrosesan informasi. Teori belajar konstruktivisme adalah Teori yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentranformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan lama itu tidak lagi sesuai. Teori belajar pemrosesan informasi merupakan teori yang menitikberatkan tentang bagaimana informasi yang didapat tersebut dapat diolah oleh siswa dengan pemahamannya sendiri. Pemanfaatan lingkungan sebebas-bebasnya untuk pencapaian tujuan belajar haruslah diberikan pada siswa, sehingga kreatifitas siswa lebih tampak.
Sebagian besar lembaran sejarah Psikolog mengungkapkan bahwa kondisioning merupakan bentuk belajar yang paling sederhana dan dapat dipahami secara keseluruhan. Sebab menurut ahli bahwa implementasinya ke arah pembentukan organisasi kelas bersifat lebih rendah menguasainya dibanding proses-proses belajar konsep, berpikir, dan menyelesaikan masalah. Salah satu tokoh dalam menciptakan belajar classical condotioning ialah Ivan Pavlov, ia dikenal; sebagai tokoh behavioriesme.
Teori Behaviorisme mengatakan bahwa peniruan sangat penting dalam mempelajari bahasa. Teori ini juga mengatakan bahwa mempelajari bahasa berhubungan dengan pembentukan hubungan antara kegiatan stimulus-respon dengan proses penguatannya. Proses penguatan ini diperkuat oleh suatu situasi yang dikondisikan, yang dilakukan secara berulang-ulang. Sementara itu, karena rangsangan dari dalam dan luar mempengaruhi proses pembelajaran, anak-anak akan merespon dengan mengatakan sesuatu. Ketika responnya benar, maka anak tersebut akan mendapat penguatan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Saat proses ini terjadi berulang-ulang, lama kelamaan anak akan menguasai percakapan.
Kalimat bijak mengungkapkan sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat untuk manusia, mungkin demikianlah ungkapan penulis bila tidak berlebihan terhadap diri Ivan Pavlov yang demikian gemilang, telah mengiringi pemerhati teori belajar untuk senantiasa tidak jenuh mengulasnya, menurut Ivan Pavlov bahwa teori ini “klasik”. Sehingga kesimpulan teori yang ia tangkap”respon” dikontrol oleh pihak luar; ia menentukan kapan dan apa yang akan diberikan sebagai “stimulus”.
Demikianlah kejeniusan Ivan Pavlov mengenai teori classical conditioning sebagai dasar hasil eksperimennya. Akibatnya, Ivan Pavlov telah melahirkan model belajar teori classical conditioning bermanfaat, maka merupakan keharusan penulis untuk menyampaikan kembali, guna mewujudkan dinamika teori Ivan Pavlov sebagai dasar pengembangan dalam praktek belajar mengajar, sehingga dapat berjalan dengan baik dan tercapai tujuan yang diharapkan.


Biografi Ivan Pavlov


Ivan Petrovich Pavlov
Tokoh ini memiliki nama lengkap Ivan Petrovich Pavlov, dilahirkan di Rjasan (Rusia), (yang saat ini Negara Rusia telah menjadi negara-negara kecil) pada tanggal 18 September 1849 dan wafat di Leningrad pada tanggal 7 Februari 1936. Pavlov anak seorang Pendeta; sebagaimana keterangan yang kami kutip bahwa orang tua Ivan Pavlov berkeinginan supaya anaknya kelak mengikuti jejaknya menjadi pendeta, karenaitu dalam pendidikannya, Pavlov memang disiapkan untuk itu. Tetapi Pavlov sendiri merasa tidak cocok dengan pekerjaan sebagai pendeta, ia memilih belajar kedokteran, dan mengambil spesialisasi dalam bidang fisiologi. Sejak tahun 1890 ia telah menjadi ahli filosofi yang ternama. Sedangkan sejarah Pavlov mengenai jabatan ia pernah menjabat sebagai guru besar di Akademik Kedokteran milik Militer Rusia hingga tahun 1925.
Eksperimen Pavlov yang sangat berkembang di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang pencernaan, sehingga dikenal dengan teori Clasical Conditioning, sehingga dalam sejarahnya ia dikenal sebagai ilmuan besar Rusia yang berhasil meraih Nobel pada tahun 1909 dalam lapangan ilmu fisiologi. Ia memandang ilmu pengetahuan sebagai sarana belajar tentang berbagai masalah dunia dan masalah manusia. Peranan dari ilmuwan menurutnya antara lain membuka rahasia alam sehingga dapat memahami hukum-hukum yang ada pada alam. Di samping itu ilmuwan juga harus mencoba memahami bagaimana manusia itu belajar dan tidak bertanya bagaimana mestinya manusia belajar.
Sebagaimana yang telah penulis kemukakan secara sederhana bahwa Pavlov peletek studi eksperimen-objektif bagi aktifitas saraf (nerves) pada hewan dan manusia dengan menggunakan teori “refleksi terkondisikan”. Melalui ini, Pavlov berhasil menemukan prinsip dasar dari mekanisme kerja otak. Hasil eksperimen yang ia simpulkan tentang “air liur yang mengalir secara alami” dan beberapa kajian eksperimen lainnya menjadi dasar kesimpulan yang diperolehnya tentang fungsi indikator dari kerja mental (psychic).


Pavlov memiliki beberapa buah karyanya yang penting, sebagaimana dikutip dari Filsafat Islam karangan Ismail Asy-Syarafa beliau menerangkan diantaranya:

1.       Dua Puluh Tahun Studi Objektif tentang Aktivitas Saraf (perilaku) pada Binatang (Isyuruuna ‘Aamman mi Ad-Dirasah Al-hayawaanat, 1923.
2.       Kuliah tentang Cara Kerja Dua Lingkaran Besar Otak (Muhadharat fi ‘Amali An-Nishfain Al-Kurawiyyaain Al-Kabirainn li Al-Mukh),1927.

Teori Belajar Classical Conditioning Menurut Ivan Pavlov

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936). Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjana kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927). Ia meninggal di Leningrad pada tanggal 27 Februari 1936. Sebenarnya ia bukan seorang sarjana psikologi dan ia pun tidak mau disebut sebagai ahli psikologi, karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik. 

Pavlov saat melakukan eksperimen terhadap anjing

Cara berpikirnya adalah sepenuhnya cara berpikir ahli ilmu faal, bahkan ia sangat anti terhadap psikologi karena dianggapnya kurang ilmiah. Dalam penelitian-penelitiannya ia selalu berusaha menghindari konsep-konsep meupun istilah-istilah psikologi. Sekalipun demikian, peranan Pavlov dalam psikologi sangat penting, karena studinya mengenai refleks-refleks akan merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviorisme. Pandangannya yang paling penting adalah bahwa aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada rangkaian-rangkaian refleks belaka. Karena itu, untuk mempelajari aktivitas psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja. Pandangan yang sebenarnya bermula dari seorang tokoh Rusia lain bernama I.M. Sechenov. I.M. yang banyak mempengaruhi Pavlov ini, kemudian dijadikan dasar pandangan pula oleh J.B. Watson di Amerika Serikat dalam aliran Behaviorismenya setelah mendapat perubahan-perubahan seperlunya.
Classic conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu.
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.

Respon anjing saat diberikan perlakuan

Makanan adalah rangsangan wajar, sedang merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons. Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia. 
Adapun jalan eksperimen tentang refleks berkondisi yang dilakukan Pavlov adalah sebagai berikut: 
Pavlov menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. Anjing itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa, sehingga tiap-tiap air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur jumlahnya. Pavlov kemudian menekan sebuah tombol dan keluarlah semangkuk makanan di hadapan anjing percobaan. Sebagai reaksi atas munculnya makanan, anjing itu mengeluarkan air liur yang dapat terlihat jelas pada alat pengukur.


Makanan yang keluar disebut sebagai perangsang tak berkondisi (unconditioned stimulus) dan air lliur yang keluar setelah anjiing melihat makanan disebut refleks tak berkondisi (unconditioned reflex), karena setiap anjing akan melakukan refleks yang sama (mengeluarkan air liur) kalau melihat rangsang yang sama pula (makanan). Kemudian dalam percobaan selanjutnya Pavlov membunyikan bel setiap kali ia hendak mengeluarkan makanan. Dengan demikian anjing akan mendengar bel dahulu sebelum ia melihat makanan muncul di depanny. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan selama itu keluarnya air liur diamati terus. Mula-mula air liur hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak berkondisi), tetapi lama-kelamaan air liur sudah keluar pada waktu anjing baru mendengar bel. Keluarnya air liur setelah anjing mendengar bel disebut sebagai refleks berkondisi (conditioned reflects, karena refleks itu merupakan hasil latihan yang terus-menerus dan hanya anjing yang sudah mendapat latihan itu saja yang dapat melakukannya. Bunyi bel jadinya rangsang berkondisi (conditioned reflects). Kalau latihan itu diteruskan, maka pada suatu waktu keluarnya air liur setelah anjing mendengar bunyi bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bunyi bel itu. Dengan perkataan lain, refleks berkondisi akan bertahan walaupun rangsang tak berkondisi tidak ada lagi. Pada tingkat yang lebih lanjut, bunyi bel didahului oleh sebuah lampu yang menyala, maka lama-kelamaan air liur sudah keluar setelah anjing melihat nyala lampu walaupun ia tidak mendengar bel atau melihat makanan sesudahnya. 
Demikianlah satu rangsang berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang berkondisi lainnya sehingga binatang percobaan tetap dapat mempertahankan refleks berkondisi walaupun rangsang tak berkondisi tidak lagi dipertahankan. Tentu saja tidak adanya rangsang tak berkondisi hanya bisa dilakukan sampai pada taraf tertentu, karena terlalu lama tidak adarangsang tak berkondisi, binatang percobaan itu tidak akan mendapat imbalan (reward) atas refleks yang sudah dilakukannya dan karena itu refleks itu makin lama akan semakin menghilang dan terjadilah ekstinksi atau proses penghapusan refleks (extinction).
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi. Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehari-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lain bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama. 


Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflects). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar Behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Bahkan Amerika Psychological Association (A.P.A.) mengakui bahwa Pavlov adalah orang yang terbesar pengaruhnya dalam psikologi modern di samping Freud.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

BAHASA ITU APA YAH?





Bahasa adalah sistem dan bahasa adalah lambang, maka bahasa adalah bunyi, maka seluruhnya dapat dikatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi. Jadi, sistem bahasa itu berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Masalahnya sekarang adalah apakah yang di maksud dengan bunyi itu dan apakah semua bunyi itu termasuk dalam lambang bahasa? Kata bunyi yang sering sukar dibedakan dengan kata suara, sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Secara teknis, menurut Kridalaksana bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-peribahan dalam tekanan udara. Bunyi ini bisa bersumber pada gesekan atau benturan benda-benda, alat suara pada binatang dan manusia. Lalu, yang dimaksud dengan bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa. Bunyi teriak, bersin, batuk-batuk, dan bunyi orokan bukan termsauk bunyi bahasa, meskipun dihasilkan oleh alat ucap manusia, karena semuanya itu tidak termasuk ke dalam sistem bunyi bahasa. Orokan terjadinya tidak disadari dan tidak dapat menyampaikan pesan apapun. Teriakan, bersin, dan batuk-batuk terjadinya bisa disadari dan kadang-kadang dapat juga dijadikan untuk menyampaikan pesan, sama halnya dengan bahasa, tetapi juga bukan bunyi bahasa karena tidak dapat dikombinasikan dengan bunyi-bunyi lain untuk menyampaikan pesan.
Lalu, kalau begitu apa yang disebut bunyi bahasa? Bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai "fon" dan di dalam fonemik sebagai "fonem". Kalau bahasa itu berupa bunyi, bagaimanakah masalahnya dengan bahasa tulisan? Dalam linguistik yang disebut bahasa yang primer adalah yang diucapkan. Bahasa yang dilisankan inilah yang pertama-tama menjadi objek linguistik. Sedangkan bahasa tulis, meskipun tidak dilupakan dalam kajian linguistik, hanyalah bersifat sekunder. Bahasa tulis sebenarnya hanyalah rekaman dari bahasa lisan.
Bahwa hakikat bahasa adalah bunyi, atau bahasa lisan, dapat kita saksikan sampai kini banyak sekali bahasa di dunia ini, termasuk di Indonesia, yang hanya punya bahasa lisan; tidak punya bahasa tulis, karena bahasa-bahasa tersebut tidak atau belum mengenal sistem aksara.

Sumber: Linguistik Umum terbitan Rineka Cipta (Abdul Chaer)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

TERJEBAK NOSTALGIA (LAYANG-LAYANG)







"Layang-layang. Impian terbesarku saat itu cuma satu. Ya, menerbangkan layang-layang itu hingga ke Langit tertinggi. Bagaimana aku menerbangkan layang-layang itu,hingga menyapa langit yang tak bisa kusentuh keindahannya. Bagiku, langit itu seperti gumpalan permen kapas, yang rasanya begitu manis dan legit di lidah"


Kembali kutelan salivaku yang kini tertahan ditenggorokan. Kupandangi kembali gumpalan awan yang seolah menari-nari memanggilku. Perlahan senyumku mengembang, kala mengenang masa lalu, mengenang masa-masa yang sangat berkesan dalam hidupku.
“Ayah, layang- layang Azan sudah jadi nih, yuk kita terbangkan bersama...”, Sebuah suara riang memanggilku, memecah khayalku yang mulai menguak memori-memori yang dulu pernah kulalui.
Nampak, putraku Azan, dengan senyum cerahnya menghampiriku dengan selembar layang- layang yang begitu indah corak, dan warnanya. Ah, layang-layang. Lembaran kertas warna-warni itu seolah membuatku berkelana mengarungi masa lalu. Masa-masa sulit yang begitu nikmat rasanya. Terasa jelas, bekas pukulan mama’ yang waktu itu menyuruhku ke mesjid untuk mengaji, dan belajar ilmu agama pada ustadz dan ustadzah, sedangkan aku dengan bandelnya malah sembunyi-sembunyi membuat layang- layang impian, yang waktu itu tak mungkin terbeli dengan pendapatan mama’ sebagai penjual kue keliling yang bisa dibilang pas-pasan. Pas mau makan, dan beras habis terpaksa ngutang. Teriakan mama’ masih terasa jelas getarannya di telinga. Serta bekas luka di pelipis kiriku yang menjadi tanda bahwa layang-layang pernah menjadi substansi penting pembentuk diriku saat ini.
Layang-layang. Teringat kali pertama aku berkenalan dengan benda yang menurutku amat sangat menakjubkan kala itu. Layang-layang berbentuk burung garuda milik Ahmad, teman mengajiku. Dengan bangga, Ahmad memamerkan layang-layang yang dihadiahkan oleh bapaknya, yang baru saja pulang Dinas dari Bali.
“Ling, lihatlah hadiah dari bapakku ini...sungguh elok, bukan?”, Ucapnya pongah sembari membusungkan dada.
Aku terpana. Menganga takjub pada keindahan benda yang belum pernah kulihat sebelumnya. Benda berbentuk miniatur burung, tapi bahannya dari kertas warna-warni seperti pelangi, dengan untaian pita sebagai ekornya, nampak meliuk-liuk ketika diterpa oleh angin.Sangat indah. Sungguh.
“Benda apa itu?”, Tanyaku refleks. Sadar bahwa mempertanyakan hal itu merupakan sebuah kekeliruan, membuatku menyadari bahwa dengan mempertanyakan nama benda itu, sama dengan membiarkan diriku menjadi bahan olok-olokan Ahmad, dan kawan-kawan. Segera kukatupkan bibirku. Namun, mataku masih membeliak lebar. Takjub akan pesonanya.
“AHAHAHAHA.....Ling...kau tak tahu nama benda ini? Kau tak pernah lihat sebelumnya?”,Tawa Ahmad semakin pecah, demi melihat ekspresiku yang seperti pesakitan yang sedang didakwa karena mencuri seekor ayam.
“Ap...apa-apaan...ti...tidak..kok...ak..aku...tau namanya...hanya saja...bentuknya berbeda dari biasanya”,Tergagap aku mencoba memberi alasan.
“Halah...mengaku sajalah, kau tak tau...itu wajar..sebab mana pernah kau lihat layang-layang semacam ini diterbangkan di sekitar lorong-lorong rumahmu yang sempit itu?Hahaha”, Lanjut Ahmad semakin bangga.
“Tsk...kuakui benda ini begitu memikat hati. Apa namanya? dan apa katamu tadi? diterbangkan? terbang? di langit? Maksudnya ia bisa terbang seperti burung sungguhan? ,”Tanyaku pada akhirnya. Rupanya rasa penasaranku mengalahkan gengsiku.
“Tentulah, benda ini begitu istimewa, namanya layang-layang, bukan sembarang layang-layang biasa yang berbentuk jajar genjang itu”
“Layang-layang? Jadi namanya layang-layang? Benda ini bisa melayang terbang? terbang? ke langit? waaahhh....asyiknya....”
“ Bagaimana menerbangkannya? Katamu tadi benda ini bisa diterbangkan hingga ke langit, bukan?”
“Hahahaha, lihat...benang yang  kuulur ini akan aku sambungkan pada rangka layang-layang ini, lalu dengan tolakan yang tepat, saya bisa menerbangkan layang-layang ini, dan akan terlihat seolah melayang-layang di langit”, Ucap Ahmad memberi penjelasan.
“ Huwaaa...sepertinya seru...ayo ikat...ikat...”, Aku menyentuh layang-layang itu hati-hati, merasakan teksturnya di kulit telapak tanganku.
Sontak Ahmad menepis tanganku. Aku terhenyak. Kaget.
“Heh...benda ini boleh dilihat, tapi tak boleh disentuh. Hanya aku yang dapat menyentuhnya, lagipula ia begitu cantik dan rapuh, memegangnya harus berhati-hati,sebab layang-layang ini jauh-jauh didatangkan dari Bali”, Ahmad nampak menimang dan mengelus-elus tiruan burung itu dengan tingkah sayang yang dibuat-buat, dan nada suara yang dimanja-manjakan. Memuakkan.
“Ahmad...ayolah kita terbangkan layang-layangmu itu, kami sudah tidak sabar,” Sebuah seruan nampak mengagetkanku. Rupanya Toto, dan Tri, teman karib Ahmad.Kemana-mana mereka selalu bersama-sama. Ahmad bertingkah layaknya ketua geng, aku lebih suka menyebut bentuk pertemanan mereka itu sebagai sebuah geng. Geng Tukang Pamer.
“Ayolah...kita Let’s GO !!! Bro!!!”, Ahmad dan kawan-kawannya perlahan mulai mengatur langkah menjauhiku.
“Apa-apaan ini, layang-layang itu...ah...aku penasaran...bagaimana ia dapat melayang di angkasa...bagaimana...ah...jangan pergi layang-layang...tunggu...”
****

 

Ling mengendap-endap, memelankan langkah kaki kecilnya. Berusaha tak menimbulkan suara sekecil mungkin. Matanya nyalang,memerhatikan sekitar. Mengawasi jejak-jejak Ahmad dan kawan- kawan yang nampaknya menuju ke suatu tempat. Sekali waktu, ia bersembunyi di balik tembok- tembok pada petak-petak rumah kontrakan di sepanjang lorong sempit itu, ketika Ahmad, atau Toto nampak berbalik memastikan, kalau ia tak mengikuti mereka.
“Mad, sepertinya ada yang mengikuti kita”,Bisik Toto pada Ahmad yang memimpin perjalanan.
“Ah, biar sajalah. Biar kita tunjukkan ke dia betapa hebat, dan indahnya layang-layangku  ini, Hahaha...biarlah sekali-kali kita kalahkan dia,cukuplah dia menang di wilayah hafal-menghafal, dan mengatur strategi mencetak gol...Hahaha...mari kita bersenang-senang...”
Ling yang mendengar hal itu, mulai tumbuh rasa gengsinya, tapi rasa penasarannya,rasa keingintahuannya mampu meredam geliat ego yang menghadangnya.
Sekonyong-konyong, Ahmad dan kawan-kawan menghentikan langkahnya tepat di depan lapangan tempat mereka biasa bermain sepak bola. Ling memperhatikan tingkah ketiganya dari balik pohon beringin, yang berjarak sekitar  1 meter dari lapangan tersebut.Diperhatikannya Ahmad, dengan cekatan mengikatkan ujung benang pada rangka layang-layang itu, lalu menyerahkannya pada Toto. Toto memegang layangan itu dengan ujung jarinya. Tri mengulur benang layangan itu, lantas menyerahkannya pada Ahmad. Direntangkannya benang yang menjulur itu, hingga layang-layang yang dipegang oleh Toto, nampak tertarik dengan kuat, dan melebar. Sepersekian detik, dengan cepat Ahmad menarik benang itu, sedang Toto mulai menolak layang-layang itu ke udara. Dan, seketika layang-layang itu tertolak ke udara. Begitu menakjubkan. Layang-layang itu kini menari di udara. Kibasan ekornya seolah mencumbu angin, mencolek awan yang menggumpal laksana permen kapas putih. Ling terpana. Sungguh ia betul-betul terpesona pada benda bernama layang-layang ini.
“Layang-layang itu terbang...melayang...sungguhan...hingga ke langit...warna-warni...sungguh indah... mengapa bisa seperti itu?”
****

 

“Ma’...mama’....wuih...betapa kerennya layang-layang punya si Ahmad, melayang-layang di udara,perlahan semakin tinggi, dan tinggi ke langit, terus...terus...terbang tinggi...sampai awan ma’...”. Ling mulai menirukan gerakan layang-layang yang meliuk-liuk di udara dengan gerakan tangannya, kepalanya maju mundur, mencoba memberikan visualisasi yang tepat pada Ibunya.
“La..yang-layang...? la...layang-layang apa..katamu??” Tanya  Ibunya.
“Iya, Ma’ layang-layang...rupanya seperti burung garuda, Lambang negara kita tercinta, Indonesia..ma’, warna-warni pula...ada ekornya dari pita-pita...berkilauan saat diterpa sinar mentari, indah sekali ma’...”. Mata Ling nampak berbinar-binar saat mendeskripsikan layang-layang itu.
“Terus...maksudmu memberitahukannya pada mama’ apa nak..?”
“Hm...itu ma’...bisakah saya minta uang jajan sedikit lebih tiap harinya untuk ditabung..dan..dan...untuk saya belikan layang-layang ma’...?”
“Hmm...Ling anakku, kamu tahu kan berapa penghasilan mama’ sebagai seorang penjual kue keliling? Jangankan untuk membelikanmu layang-layang, uang SPP mu saja sering tertunggak. Syukur, jika sehari-hari kita bisa makan.”
Ling diam. Ling memandang sosok mama’ yang saat ini duduk di hadapannya, lingkaran mata panda menambahkan kesan smokey pada manik coklatnya. Mata yang sering menangis pada sepertiga malam, mendo’akannya agar Ling bisa menjadi ‘orang’ nantinya.
“Ling tau ma’, karena itu Ling rajin belajar, jadi Ling dapat dua beasiswa sekaligus. Beasiswa untuk siswa kurang mampu, dan beasiswa untuk siswa berprestasi...”
“Iya...nak..tapi, kebutuhan makan sehari-hari? Harga sembako melonjak pesat, apalagi baru-baru ini pemerintah menjebak kita, dengan sogokan gas elpiji, dan kompor gas yang kurang layak itu, lantas menaikkan harga gas yang notabene sudah jadi kebutuhan kita sehari-hari”
“Wuih...mama’ canggih...bahasanya...”,Puji Ling, berharap Ibunya memberikannya uang saku lebih.
“Aduh..Ling, meski di rumah kita tidak ada tipi, setidaknya mama’ rajin-rajin dengar berita di radio tua kesayangan almarhum bapakmu”, Mata ibunya kini nampak meredup.
Ling. Bukan nama sebenarnya. Namanya Mukhlis, cuma karena ibunya seorang penjual kue keliling, di lingkungan ia tinggal, ia dipanggil Ling. Seorang anak yatim, ditinggal mati bapaknya, saat usianya tiga tahun. Bapaknya seorang guru yang belum tersertifikasi. Makanya, saat bapak Ling meninggal, Ibu Ling tidak menerima tunjangan apapun dari sekolah. Keluarga Ling baru pindah ke kota itu, sesaat setelah bapaknya meninggal. Ibu Ling tidak sanggup menahan kerinduan yang membuncah, kala ia mengingat kembali romantismenya dengan suaminya di rumah mungil itu. Maka ia berinisiatif membawa serta Ling untuk hijrah ke kota kelahirannya di Makassar.
Kini usia Ling sembilan tahun. Ia sudah duduk di kelas tiga di Madrasah Ibtida’iyah. Ibu Ling seorang lulusan strata satu pendidikan keguruan.Namun, ia menyembunyikan latar belakang pendidikannya, di lingkungan sekitarnya saat ini, dan di hadapan anaknya, Ling. Ia ingin mendidik Ling dengan tangannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa pendidikan itu, ijazah yang ia miliki itu bukan untuk diperdagangkan oleh instansi-instansi pendidikan yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan. Maka, ia menjadi penjual kue keliling, di sela-sela aktivitasnya menerima orderan jahitan. Lumayan untuk uang makan, bayar kontrakan, dan tabungan untuk masa depan Ling. Meski sibuk bekerja, Ibu Ling tak pernah menelantarkan Ling, dengan aneka pertanyaan anehnya. Selain itu, untuk memanfaatkan ilmunya, Ibu Ling kerap mengajak teman-teman Ling belajar bersama di rumah.
Tak seperti biasanya, kali ini Ling uring-uringan, ia ingin sekali memiliki layang-layang seindah yang dimiliki Ahmad. Seharian ia merayu ibunya, untuk memberinya uang jajan sedikit lebih, sebab uang jajan biasanya ia tabung untuk membeli buku. Tapi kali ini lain, dia merasa layang-layang itu terlalu menarik hatinya, egonya untuk memiliki layang-layang yang sama. Keindahan layang-layang itu menari-nari di pelupuk matanya. Membayangkan betapa menyenangkannya, jika ia dapat menerbangkan layang-layang seindah itu, dan ketika layang-layang itu terbang di udara melintasi awan, yang seperti gulali itu, mencoleknya, dan membuat Ling dapat mencicipi rasa manis gumpalan awan yang dipersepsikannya sebagai permen kapas yang manis.

Tobe continued….


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS