"Eksperimen
Pavlov yang sangat berkembang di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan
studi tentang pencernaan, sehingga dikenal dengan teori Clasical Conditioning, sehingga
dalam sejarahnya ia dikenal sebagai ilmuan besar Rusia yang berhasil meraih
Nobel pada tahun 1909 dalam lapangan ilmu fisiologi. Ia memandang ilmu
pengetahuan sebagai sarana belajar tentang berbagai masalah dunia dan masalah
manusia. Peranan dari ilmuwan menurutnya antara lain membuka rahasia alam sehingga
dapat memahami hukum-hukum yang ada pada alam."
Teori
belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun
terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefenisikan sebagai
integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi demi
tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya teori belajar akan memberikan
kemudahan bagi guru dalam menjalankan model-model pembelajaran yang akan
dilaksanakan. Banyak telah ditemukan teori belajar yang pada dasarnya
menitikberatkan ketercapaian perubahan tingkah laku setelah proses
pembelajaran.
Teori
belajar merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang pengkondisian situasi belajar
dalam usaha pencapaian perubahan tingkah laku yang diharapkan. Teori belajar
yang berpengaruh terhadap pelaksanaan pembelajaran adalah teori belajar konstruktivisme
dan teori belajar pemrosesan informasi. Teori belajar konstruktivisme adalah
Teori yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentranformasikan
informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan
merevisinya apabila aturan-aturan lama itu tidak lagi sesuai. Teori belajar
pemrosesan informasi merupakan teori yang menitikberatkan tentang bagaimana
informasi yang didapat tersebut dapat diolah oleh siswa dengan pemahamannya
sendiri. Pemanfaatan lingkungan sebebas-bebasnya untuk pencapaian tujuan
belajar haruslah diberikan pada siswa, sehingga kreatifitas siswa lebih tampak.
Sebagian
besar lembaran sejarah Psikolog mengungkapkan bahwa kondisioning merupakan
bentuk belajar yang paling sederhana dan dapat dipahami secara keseluruhan.
Sebab menurut ahli bahwa implementasinya ke arah pembentukan organisasi kelas
bersifat lebih rendah menguasainya dibanding proses-proses belajar konsep,
berpikir, dan menyelesaikan masalah. Salah satu tokoh dalam menciptakan belajar
classical condotioning ialah Ivan Pavlov, ia dikenal; sebagai tokoh
behavioriesme.
Teori
Behaviorisme mengatakan bahwa peniruan sangat penting dalam mempelajari bahasa.
Teori ini juga mengatakan bahwa mempelajari bahasa berhubungan dengan
pembentukan hubungan antara kegiatan stimulus-respon dengan proses
penguatannya. Proses penguatan ini diperkuat oleh suatu situasi yang
dikondisikan, yang dilakukan secara berulang-ulang. Sementara itu, karena
rangsangan dari dalam dan luar mempengaruhi proses pembelajaran, anak-anak akan
merespon dengan mengatakan sesuatu. Ketika responnya benar, maka anak tersebut
akan mendapat penguatan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Saat proses ini
terjadi berulang-ulang, lama kelamaan anak akan menguasai percakapan.
Kalimat
bijak mengungkapkan sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat untuk manusia,
mungkin demikianlah ungkapan penulis bila tidak berlebihan terhadap diri Ivan
Pavlov yang demikian gemilang, telah mengiringi pemerhati teori belajar untuk
senantiasa tidak jenuh mengulasnya, menurut Ivan Pavlov bahwa teori ini
“klasik”. Sehingga kesimpulan teori yang ia tangkap”respon” dikontrol oleh
pihak luar; ia menentukan kapan dan apa yang akan diberikan sebagai “stimulus”.
Demikianlah
kejeniusan Ivan Pavlov mengenai teori classical conditioning sebagai dasar
hasil eksperimennya. Akibatnya, Ivan Pavlov telah melahirkan model belajar
teori classical conditioning bermanfaat, maka merupakan keharusan penulis untuk
menyampaikan kembali, guna mewujudkan dinamika teori Ivan Pavlov sebagai dasar
pengembangan dalam praktek belajar mengajar, sehingga dapat berjalan dengan
baik dan tercapai tujuan yang diharapkan.
Biografi Ivan Pavlov
![]() |
| Ivan Petrovich Pavlov |
Tokoh
ini memiliki nama lengkap Ivan Petrovich Pavlov, dilahirkan di Rjasan (Rusia),
(yang saat ini Negara Rusia telah menjadi negara-negara kecil) pada tanggal 18
September 1849 dan wafat di Leningrad pada tanggal 7 Februari 1936. Pavlov anak
seorang Pendeta; sebagaimana keterangan yang kami kutip bahwa orang tua Ivan
Pavlov berkeinginan supaya anaknya kelak mengikuti jejaknya menjadi pendeta,
karenaitu dalam pendidikannya, Pavlov memang disiapkan untuk itu. Tetapi Pavlov
sendiri merasa tidak cocok dengan pekerjaan sebagai pendeta, ia memilih belajar
kedokteran, dan mengambil spesialisasi dalam bidang fisiologi. Sejak tahun 1890
ia telah menjadi ahli filosofi yang ternama. Sedangkan sejarah Pavlov mengenai
jabatan ia pernah menjabat sebagai guru besar di Akademik Kedokteran milik Militer
Rusia hingga tahun 1925.
Eksperimen
Pavlov yang sangat berkembang di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan
studi tentang pencernaan, sehingga dikenal dengan teori Clasical Conditioning, sehingga
dalam sejarahnya ia dikenal sebagai ilmuan besar Rusia yang berhasil meraih
Nobel pada tahun 1909 dalam lapangan ilmu fisiologi. Ia memandang ilmu
pengetahuan sebagai sarana belajar tentang berbagai masalah dunia dan masalah
manusia. Peranan dari ilmuwan menurutnya antara lain membuka rahasia alam sehingga
dapat memahami hukum-hukum yang ada pada alam. Di samping itu ilmuwan juga
harus mencoba memahami bagaimana manusia itu belajar dan tidak bertanya bagaimana
mestinya manusia belajar.
Sebagaimana
yang telah penulis kemukakan secara sederhana bahwa Pavlov peletek studi
eksperimen-objektif bagi aktifitas saraf (nerves) pada hewan dan manusia dengan
menggunakan teori “refleksi terkondisikan”. Melalui ini, Pavlov berhasil
menemukan prinsip dasar dari mekanisme kerja otak. Hasil eksperimen yang ia
simpulkan tentang “air liur yang mengalir secara alami” dan beberapa kajian
eksperimen lainnya menjadi dasar kesimpulan yang diperolehnya tentang fungsi
indikator dari kerja mental (psychic).
Pavlov memiliki
beberapa buah karyanya yang penting, sebagaimana dikutip dari Filsafat Islam
karangan Ismail Asy-Syarafa beliau menerangkan diantaranya:
1.
Dua Puluh Tahun Studi Objektif tentang Aktivitas
Saraf (perilaku) pada Binatang (Isyuruuna ‘Aamman mi Ad-Dirasah Al-hayawaanat,
1923.
2.
Kuliah tentang Cara Kerja Dua Lingkaran Besar
Otak (Muhadharat fi ‘Amali An-Nishfain Al-Kurawiyyaain Al-Kabirainn li
Al-Mukh),1927.
Teori Belajar Classical Conditioning Menurut Ivan Pavlov
Ivan
Petrovich Pavlov (1849-1936). Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di
Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang
pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi.
Pavlov lulus sebagai sarjana kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada
tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of
Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan.
Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun
1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology
behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan
Conditioned Reflexes(1927). Ia meninggal di Leningrad pada tanggal 27 Februari
1936. Sebenarnya ia bukan seorang sarjana psikologi dan ia pun tidak mau
disebut sebagai ahli psikologi, karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang
fanatik.
![]() |
| Pavlov saat melakukan eksperimen terhadap anjing |
Cara
berpikirnya adalah sepenuhnya cara berpikir ahli ilmu faal, bahkan ia sangat
anti terhadap psikologi karena dianggapnya kurang ilmiah. Dalam
penelitian-penelitiannya ia selalu berusaha menghindari konsep-konsep meupun
istilah-istilah psikologi. Sekalipun demikian, peranan Pavlov dalam psikologi
sangat penting, karena studinya mengenai refleks-refleks akan merupakan dasar
bagi perkembangan aliran psikologi behaviorisme. Pandangannya yang paling
penting adalah bahwa aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada
rangkaian-rangkaian refleks belaka. Karena itu, untuk mempelajari aktivitas
psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja. Pandangan yang
sebenarnya bermula dari seorang tokoh Rusia lain bernama I.M. Sechenov. I.M.
yang banyak mempengaruhi Pavlov ini, kemudian dijadikan dasar pandangan pula
oleh J.B. Watson di Amerika Serikat dalam aliran Behaviorismenya setelah
mendapat perubahan-perubahan seperlunya.
Classic
conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang
ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli
dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga
memunculkan reaksi yang diinginkan. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov
dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana
gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai
dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan
hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran
mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia
berbuat sesuatu.
Bertitik
tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu,
perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan. Kemudian
Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia
menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan
segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Ia
mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing.
Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan
sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum
makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu,
baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan
yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya
memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar
pula.
![]() |
| Respon anjing saat diberikan perlakuan |
Makanan
adalah rangsangan wajar, sedang merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau
perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan
menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut.
Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons. Pavlov
berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid
Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang
ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari
manusia.
Adapun
jalan eksperimen tentang refleks berkondisi yang dilakukan Pavlov adalah
sebagai berikut:
Pavlov
menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. Anjing itu diikat dan
dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa, sehingga tiap-tiap air liur
yang keluar dapat ditampung dan diukur jumlahnya. Pavlov kemudian menekan
sebuah tombol dan keluarlah semangkuk makanan di hadapan anjing percobaan.
Sebagai reaksi atas munculnya makanan, anjing itu mengeluarkan air liur yang
dapat terlihat jelas pada alat pengukur.
Makanan
yang keluar disebut sebagai perangsang tak berkondisi (unconditioned stimulus)
dan air lliur yang keluar setelah anjiing melihat makanan disebut refleks tak
berkondisi (unconditioned reflex), karena setiap anjing akan melakukan refleks
yang sama (mengeluarkan air liur) kalau melihat rangsang yang sama pula
(makanan). Kemudian dalam percobaan selanjutnya Pavlov membunyikan bel
setiap kali ia hendak mengeluarkan makanan. Dengan demikian anjing akan
mendengar bel dahulu sebelum ia melihat makanan muncul di depanny. Percobaan
ini dilakukan berkali-kali dan selama itu keluarnya air liur diamati terus.
Mula-mula air liur hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak
berkondisi), tetapi lama-kelamaan air liur sudah keluar pada waktu anjing baru
mendengar bel. Keluarnya air liur setelah anjing mendengar bel disebut sebagai
refleks berkondisi (conditioned reflects, karena refleks itu merupakan hasil
latihan yang terus-menerus dan hanya anjing yang sudah mendapat latihan itu
saja yang dapat melakukannya. Bunyi bel jadinya rangsang berkondisi
(conditioned reflects). Kalau latihan itu diteruskan, maka pada suatu waktu
keluarnya air liur setelah anjing mendengar bunyi bel akan tetap terjadi
walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bunyi bel itu. Dengan perkataan
lain, refleks berkondisi akan bertahan walaupun rangsang tak berkondisi tidak
ada lagi. Pada tingkat yang lebih lanjut, bunyi bel didahului oleh sebuah lampu
yang menyala, maka lama-kelamaan air liur sudah keluar setelah anjing melihat
nyala lampu walaupun ia tidak mendengar bel atau melihat makanan sesudahnya.
Demikianlah
satu rangsang berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang berkondisi lainnya
sehingga binatang percobaan tetap dapat mempertahankan refleks berkondisi
walaupun rangsang tak berkondisi tidak lagi dipertahankan. Tentu saja tidak
adanya rangsang tak berkondisi hanya bisa dilakukan sampai pada taraf tertentu,
karena terlalu lama tidak adarangsang tak berkondisi, binatang percobaan itu
tidak akan mendapat imbalan (reward) atas refleks yang sudah dilakukannya dan
karena itu refleks itu makin lama akan semakin menghilang dan terjadilah
ekstinksi atau proses penghapusan refleks (extinction).
Kesimpulan
yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain
daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi
setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) di mana
refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak
berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi. Apakah
situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehari-hari
ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari
penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin
suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu
tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas.
Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak
menjajakan dagangannya. Contoh lain bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau
tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu
membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay)
yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan
antri di bank tanpa harus berdiri lama.
Dari
contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov
ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami
dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang
diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh
stimulus yang berasal dari luar dirinya. Penemuan Pavlov yang sangat menentukan
dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi
(conditioned reflects). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar
Behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian
mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Bahkan
Amerika Psychological Association (A.P.A.) mengakui bahwa Pavlov adalah orang
yang terbesar pengaruhnya dalam psikologi modern di samping Freud.













0 komentar:
Posting Komentar