RSS
Post Icon

OPINI SEORANG 'TEMAN' TENTANG EKSISTENSIALISME & PSIKOLOGI EKSISTENSIAL ( One Night Discussion with "Law Year" )





"Dalil utama dari eksistensialisme adalah keberadaan (existence) individual manusia yang dialami secara subjektif. Istilah existence sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu existo (ex dan sistere=muncul, menjadi, hadir). Artinya eksistensialisme mencoba memahami manusia bukan semata-mata ‘ada’ yang statis dan selalu sama, melainkan sebagai penjadi yang secara sinambung berubah dan berkembang. Lalu apakah pengaruh eksistensialisme terhadap psikologi? Psikologi eksistensial ini menjabarkan psikologi yang dilandaskan pada fakta primordial dari dunia pribadi yang bermakna yang menjadi sasaran dari segenap aktivitas.  Salah satu dalil dasar yang mendasari psikologi eksistensial adalah setiap manusia unik dalam kehidupan batinnya, dalam mempersepsi dan mengevaluasi dunia, dan dalam bereaksi terhadap dunia. Perhatiannya adalah pada kesadaran, perasaan-perasaan, suasana-suasana perasaan, dan pengalaman-pengalaman pribadi individual yang berkaitan dengan keberadaan individualnya dalam dunia dan di antara sesamanya. Intinya dari perspektif ini adalah melihat manusia secara keseluruhan sebagai subjek." (Nia Janiar, Ruang Psikologi)


A. PSIKOLOGI EKSISTENSIAL

Psikologi Eksistensial yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari usaha perilaku manusia untuk memahami manusia dengan mengatasi jurang pemisah antara subjek dan objek
Aliran psikologi eksistensial tidak terikat pada nama salah seorang pelopor. Psikologi Eksistensial dilaksanakan dengan berbagai variasi, yang semuanya dengan satu atau lain cara yang mengambil inspirasinya dari karya karya ahli falsafah di Eropa Barat ,Seperti Paul Tillich, Martin Heidegger,Jean Paul Sartre, Ludwig Binswanger ,dan Eugene Minkowski. Psikologi Eksistensial sangat menekankan implikasi-implikasi falsafah hidup dalam menghayati makna kehidupan manusia di dunia ini. Promotor-Promotor dari Psikologi Eksistensial di Amerika Serikat adalah Rollo May,Victor E.Frankl,dan Adrian Van Kaam. Psikologi eksistensial  berfokus pada situasi kehidupan manusia di alam semesta ,yang mencakup: kemampuan kesadaran diri ; kebebasan untuk memilih dan menentukan nasib hidupnnya sendiri; tanggung  jawab pribadi; kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin ; usaha untuk menemukan makna dari kehidupan manusia  ; keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain ; kematian ; serta kecenderungan dasar untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin.

B.     KONSEP DASAR PSIKOLOGI EKSISTENSIAL



Konsep – konsep dasar dalam suatu eksistensialisme yaitu, antara lain mengada dalam dunia dan ketidakmengadaan.

  • Mengda-dalam-Duni(Being in the-World)
Kesatuan dasar pribadi dan lingkungan ini di  ungkapkan dengan istilah bahasa JermanDasein, yang dapat arti harfiahnya hadir di sana. Kalau begitu Dasein dapat diartikan eksis di dunia dan umumnya ditulis dalam frasa mengada dalam-dunia (being in the world).Tanda garis hubung dalam istilah ini menunjukkan kemenyatuan subjek dan objek, pribadi dan dunia. Perasaan terisolasi dan keterasingan-diri daridunia diderita tidak hanya oleh individu yang terganggu secara patologis, tetapi juga oleh banyak idividu di masyarakat wilayah  modern. Alienasi adalah penyakit zaman ini, dan dia termanifestasikan di ketiga ini: (1) keterpisahan dari alam, (2) kekurangan hubungan antarpribadi yang bermakna, dan (3) ketersaingan dari diri yang autentik. Kalau begitu, munusia sebenarnya mengalami tiga mode mengada-dalam-dunia sekaligus, yaitu: Umwelt atau lingkungan di sekitar kita, Minwelt atau hubungan kita dengan orang lain, dan Eigenwelt atau hubungan kita dengan diri sendiri.
Oleh karena itu pribadi yang sehat hidup dalam Umwelt, Mitwelt, daEigenwelt sekaligus. Merekä beradaptasi dengan dunia alamiah, berhubungan dengan orang lain sebagai manusia dan memiliki kesadaran mendalam tentang apakah makna semua pengalaman ini bagi dirinya. (May, 1958a).
  •  Ketidak mengadaan (Nonbeing)
Mengada-dalam-dunia mensyaratkan kesadaran diri sebagai makhluk yang hidup dan êksis. Namun kesadaran ini pada gilirannya juga  dapat  membawa  manusia pada kesadaran akan sesuatu yang menakutkan: yaitu ketidakmengadaan (non-beig) atau ketiadaan (nothingness). May (1958,hlm.47-48).
Kematian bukan  hanya jalan bagi ketidak mengadaan namun  juga jalan yang paling jelas. Hidup Menjadi lebih vital,  lebih bermakna saat kita mengonfrontasikan kemungkinan dari kematian kita. Rasa takut pada kematian atau  ketidak mengadaan sering kali mendorong kita untuk hidup secara defensif dan menerima sedikit dari kehidupan ketimbang jika kita mengonfrontasikan diri dengan masalah ketidak mengadaan kita. Kita mungkin berusaha menghindari ketidak mengadaan yang sangat menakutkan dengan memadamkan kesadaran diri dan dengan menyangkali individualitas kita namun, pilihan-pilihan seperti itu hanya akan menyisakan rasa putus asa dan kehampaan. Kalau begitu, kita sering  melarikan diri dan ketakutan akan ketidakmengadaan dengan mengorbankan ekstensi kita yang terbatas. Altematif  yang lebih sehat adalah menghadapi ketakterlakkannya kematian dan yang menyadari bahwa ketidakmengadaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kemengadaan.

Konsep Kepribadian Psikologi Eksistensial

Konsep Kepribadian Psikologi Eksistensial Rollow May terdiri dari tiga bagian yaitu Umwelt, Mitwelt, daEigenwelt 
  • Umwelt atau lingkungan disekitar kita adalah dunia objek dan benda, dan akan tetap eksis sekalipun manusia tidak menyadarinya. Maksudnya adalah dunia alamiah dengan hukum-hukum alamiahnya, mencakup didalamnya dorongan-dorongan biologis seperti rasa lapar dan mengantuk dan fenomena alamiah seperti lahir dan mati.
  • Minwelt atau hubungan kita dengan orang lain. Kita hidup di dunia bersama manusia yaitu Mitwelt. Maksudnya kita sebagai manusia yang bersosial hendaknya  harus berhubungan dengan orang lain sebagai manusia, bukan sebagai benda. Jika kita memperlakukan orang lain sebagai objek, maka kita akan hidup hanya dalam Umwelt.Namun demikian, tidak setiap hubungan Mitwelt mensyaratkan cinta.
  • Sementara itu, Eigenwelt mengacu kepada hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Ini adalah sebuah dunia yang jarang di eksplorasi para teoretisi kepribadian. Hidup dalamEigenwelt berarti menjadi sadarakan dirinya sebagai makhluk manusia dan memeluk siapa diri kita saat berhubungan dengan dunia benda dan dunia manusia.
Selain konsep dasar mengada dalam dunia dan ketidakmengadaan. May juga menambahkan bahwa; untuk memahami manusia kita harus dapat memahami dan mengamati, menempatkan manusia bagian dari alam itu sendiri, dan tidak mereduksi individu tersebut.
  • Untuk memahami manusia tersebut kita harus dapat memahami dan mengamati, maksud dari pernyataan tersebut yaitu sebagai manusia yang bersosial, apabila ingin memahami orang lain maka kita harus dapat memahami perasaan hatinya secara personal serta mengamati tingkah laku dan kehidupan sekitarnya.
  • Menempatkan manusia bagian dari alam itu sendiri, maksudnya kita sebagai calon koselor harus dapat meyakinkan orang lain agar dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitar supaya dapat saling berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, serta meyakinkan bahwa manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan.
  • Tidak mereduksi individu atau tidak merendahkan, maksudnya kita meyakinkan kepada orang lain agar tidak merendahkan kemampuan dirinya sendiri supaya orang tersebut tidak terjerumus dengan perasaan minder.
C.    KONSEP-KONSEP ROLLO MAY

Menurut Rollo May, ada tiga ciri masalah utama manusia modern, yaitu kekosongan, kesepian, dan kecemasan.
  1. Kekosongan.
  1. Kekosongan adalah kondisi individu yang tidak lagi mengetahui apa yang diinginkannnya,  dan tidak lagi memeiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Kekosongan telah mengarahkan individu-individu menjadi outer directed yakni mengarahkan diri pada orang lain dalam rangka mencari pegangan dan petunjuk untuk menentukan hidup.Ciripertama kekosongan adalah bisa merespon tapi tidak bisa memilih sendiri respon apa yang paling baik bagi masalah-masalahnya. Ciri kedua adalah pasivitas terhadap ligkungan sosial. Ciri ketiga adalah apati terhadap dunia sekitar, atau tidak perduli.
  1. Kesepian
  1. Kesepian dialami individu-individu dalam masyarakat sebagai akibat langsung dari kekosongan, keterasingan dari diri sendiri dan sesama. Individu dalam masyarakat modern mengalami ketakutan akan kesepian. Mereka memiliki hasrat yang kuat untuk diterima orang lain, dan memiliki ketakutan yang dalam akan ditolak. Kegiatan menciptakan kebersamaan dengan orang-orang dilandasi oleh ketakutan diisolasi oleh orang lain bukan untuk menciptakan hubungan yang akrab dan hangat.
  1. Kecemasan
  1. Ketidakmenentuan yang semakin besar dari hari ke hari, tidak bisa tidak telah meningkatkan kecemasan individu dalam masyarakat modern. Kecemasan timbul karena perubahan traumatik yang dialami sebelumnya, yakni hilangnya nilai-nilai persaingan individu yang ditujukan kepada kesejahteraan bersama yang digantikan oleh persaingan antar individu yang eksploitatif, hilangnya penghargaan atas keutuhan pribadi yang digantikan oleh pembagian pribadi menjadi rasionalitas dan emosionalitas (berpikir dianggap baik, mengalami emosi dianggap buruk), hilangnya rasa berharga, rasa bermartabat, dan rasa diri dari individu-individu. Individu yang cemas bingung siapa dirinya dan apa yang harus diperbuatnya.
Perjuangan individu untuk bekerja lewat pengalaman-pengalaman hidup untuk tumbuh menuju manusia yang lebih seutuhnya berkaitan tentang konsep May yaitu kecemasan, rasa bersalah, intensionalitas, perhatian cinta dan kehendak, kebebasan dan takdir, psikopatologi, dan psikoterapi.
1.      Kecemasan
Manusia mengalami kecemasan ketika mereka sadar bahwa eksistensi mereka atau beberapa nilai yang diidentifikasikan oleh dirinya bisa saja hancur. May mengidentifikasikan kecemasan sebagai kondisi subjektif individu yang semakin menyadari bahwa eksistensinya tidak bisa dihancurkan tetapi juga bahwa dia bisa saja jadi tidak-mengada. Kecemasan juga bisa bersifat normal maupun neurotik.
Kecemasan normal diidentifikasikan sebagai sebagai sesuatu yang proporsional bagi ancaman, tidak melibatkan represi, dan bisa ditentang secara konstruktif di tingkatan sadar.
Kecemasan neurotik diidentifikasikan sebagai reaksi tidak proporsional terhadap ancaman, melibatkan represi, dan bentuk-bentuk konflik intrapsikis lainnya, dan diatur oleh beragam jenis pemblokiran aktivitas dan kesadaran.
2.      Rasa Bersalah
Rasa bersalah muncul ketika manusia menyangkal potensinya gagal memahami secara akurat kebutuhan sesamanya atau masih tetap bersikukuh dengan ketergantungan mereka kepada dunia alamiah. Di titik ini rasa bersalah lebih bersifat ontologis artinya mengacu kepada hakekat kemengadaan jadi bukan sekedar perasaan-perasaan yang muncul dari situasi pelanggaran tertentu. Rasa bersalah ontologis memiliki efek positif maupun negatif terhadap kepribadian. Rasa bersalah bisa untuk mengembangkan kerendahan hati yang sehar, membenahi dengan orang lain, menggunakan secara kreatif potensi-potensi kita. Namun bila kita menolak untuk menerima rasa bersalah ontologis maka penolakan tersebut akan segera menjadi kecemasan atau kesedihan.
3.      Intensionalitas
Struktur yang memberikan makna bagi pengalaman dan mengizinkan manusia untuk melakukan pilihan terhadap masa depan disebut intensionalitas. Tanpa intensionalitas manusia tidak bisa memilih atau bertindak berdasarkan pilihan tersebut. Tindakan mensyaratkan intensionalitas sama seperti intensionalitas mensyaratkan tindakan, keduanya tidak terpisahkan. May menggunakan istilah intensonalitas sebagai struktur makna yang memungkinkan kita sebagai subjek melihat dan memahami dunia luar sebagai sesuatu yang objektif
Untuk mengilustrasikannya dengan menggunakan contoh yang sederhana yaitu seornga laki-laki yang duduk di depan mejanya mengamati secarik kertas. Sehingga laki-laki itu bisa menulis diatas kertas tersebut, melipat-lipat kertas tersebut, juga bisa menggambar sesuatu di atas kertas tersebut. Dari ketiga contoh tersebut si laki-laki bergantung kepada intensi-intensinya dan kepada makna yang diberikan terhadap pengalamannya itu.
4.      Perhatian, Cinta, dan Kehendak
Perhatian kepada seseorang berarti menyadari orang itu sebagai sesama manusia, mengidentifikasian diri dengan rasa sakit atau gembira kepada orang tersebut, rasa bersalah atau rasa penyesalan. Perhatian adalah kondisi dimana sesuatu menjadi sangat penting.
May mendefinisikan cinta sebagai kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan penegasan terhadap nilai dan perkembangan mereka sama seperti dirinya sendiri. Tanpa perhatian cinta pun tidak akan ada selain hanya perasaan sentimentil kosong atau nafsu seksual tak terkendali. May mengidentifikasi terdapat empat jenis cinta yaitu seks , eros, filia, agape
  • Seks
Seks adalah fungsi biologis yang dapat dipuaskan lewat hubungan kelamin atau peredaan seksual lainnya. May yakin bahwa masyarakat beranjak dari periode hubungan seks yang berarti dipenuhi oleh rasa bersalah dan kecemasan menuju periode dimana melakukan hubungan seks tidak mendatangkan rasa bersalah dan kecemasan.
  • Eros
Eros adalah hasrat psikologis yang mencari prokresi atau kreasi melalui sebuah penyatuan kekal dengan pribadi yang dicintai. Eros dibangun atas perhatian dan kelembutan.
  • Filia
Filia yaitu persahabatan intim nonseksual di antara dua pribadi. Filia tidak bisa diburu-buru dia memerlukan waktu untuk tumbuh berkembang dan menancapkan akar-akarnya.
  • Agape
Agape adalah cinta yang aluistik. Sejenis cinta spiritual yang mengandung resiko bermain sebagai tuhan.
Selain bentuk-bentuk cinta May menyebut kehendak merupakan kemampuan untuk mengorganisasikan diri sehingga gerakan ke arah tertentu atau kepada tujuan tertentu bisa terjadi.
5.      Kebebasan Dan Takdir
Kebebasan adalah kemungkinan bagi pengubahan, meskipun kita tidak bisa mengetahui kemana perubahan itu berjalan. Kebebasan mensyaratkan “kemampuan melabuhkan semua kemungkinan yang berbeda dalam jiwa manusia meskipun tidak begitu jelas di momentum seseorang harus bertindak”.May mengakui dua bentuk kebebasan yang pertama kebebasan eksistensial, yang kedua kebebasan esensial.
  • Kebebasan Eksistensial
Kebebasan esensial adalah kebebasan bertindak yaitu kebebasan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pilihan-pilihan yang dibuatnya.
  • Kebebasan Esensial
Kebebasan esensial (essensial freedom): yaitu kebebasan mengada (freedom of being). Faktanya, kebebasan eksistensial sering membuat kebebasan esensial lebih sulit dicapai.
Takdir bukan berarti sesuatu yang sudah diatur atau ditetapkan. Takdir adalah destinasi manusia, terminus, dan tujuan. Dalam batasan-batasan takdir kita memiliki kekuatan untuk memilih, dan kekuatan ini mengizinkan kita untuk mengkonfrontasikan dan menentang takdir tersebut. Kita tidak bisa menghapus takdir, “namum kita dapat memilih bagaimana cara kita merespons bagaimana kita akan hidup dari talenta-talenta dalam diri sendiri yang tidak menentang kita”.
Jadi, kebebasan dan takdir itu saling melahirkan satu sama lain. Saat menentang takdir, kita memperoleh kebebasan, dan saat memperoleh kebebasan, kita dapat mendorong batasan-batasan dalam takdir.
6.      Psikopatologi
May melihat psikopatologi sebagai kurangnya komunikasi-ketidakmampuan untuk mengetahui orang lain dan berbagi diri dengan mereka. Individu-individu yang terganggu secara psikologis menyangkali takdir mereka, karena itu kehilangan kebebasannya. Mereka menghasilkan beragam simton neurotik, tidak meraih kembali kebebasan mereka, malah semakin menenggelamkannya. Simton-simton semakin menyempitkan dunia fenomenologis pribadi sampai ukuran yang bisa diatasi dengan mudah. Pribadi yang kompulsif mengadopsi sebuah rutinitas yang rigid, karenanya menjadikan pilihan baru tidak lagi diperlukan.
Sintom-simtom bisa saja temporer seperti ketika stres mengakibatkan sakit kepala atau mereka bisa relatif permanen seperti ketika pengalaman masih kanak-kanak awal menghasilkan apati dan kekosongan.
7.      Psikoterapi
May yakin bahwa tujuan psikoterapi adalah membuat manusia bebas. Dia berpendapat bahwa terapis yang berkonsentrasi kepada simtom-simtom pasien akan kehilangan gambar yang lebih penting. Simtom-simtom neurosis hanyalah cara melarikan diri dari kebebasan dan indikasi bahwa potensi batiniah pasien tidak digunakan. Ketika pasien menjadi lebih bebas dan lebih manusiawi, simtom-simtom neurosis mereka biasanya akan hilang dengan sendirinya, kecemasan mereka yang nerurotik akan menjadi kecemasan yang normal, dan rasa bersalah neurotik akan diganti dengan rasa bersalah yang normal. Namun keberhasilan seperti ini hanya sekunder saja dan tidak menjadi tujuan utama terapi. May mengatakan bahwa psikoterapi mestinya lebih difokuskan  membantu manusia untuk eksis (mengada), sedangkan simtom-simtom yang menghilang itu hanyalah efek samping dari pengalaman tersebut.



DAFTAR PUSTAKA
Abidi, Zaenal. 2002. Analisis Eksistensial Untuk Psikologi dan Psikiatri. Rifeka Aditama       : Bandung
Feist, Jess dan Gregory Feist. 2008. Theoriest Of Personality. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Winkel, W.S. 1991. BK di Institusi Pendidikan. Gramedia Widiasarana Indonesia: Jakarta


Berikut tanggapan teman saya tentang 'PSIKOLOGI EKSISTENSIAL' dalam One Night Discussion di sebuah jejaring sosial (bahasanya cukup simpel untuk dipahami) : 


"Menolak pandangan hukum causa prima mungkin artinya Psikologi Eksistensialis menolak pandangan bahwa manusia ada hanya karena proses sebab akibat secara biologis (kelahiran karena hubungan seksual)"

Itu karena kaum eksistensialis mengkritik paham materialisme yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk biologis semata, yang tidak beda dengan primata lain seperti monyet.
Manusia Tidak bisa dijelaskan dalam kompleksitas sistem rasional maksudnya mungkin bahwa kaum eksistensialis menentang pandangan kaum rasionalis yg mengatakan bahwa hakikat manusia itu hanya akal."

"Hmm eksistensialis itu banyak. Kamu sedang membaca pemikirannya siapa? Heidegger, Levinas, Sartre, Martin Buber, atau Nietzche?"

"Kaum eksistensialis menilai manusia bukan hanya sebagai makhluk materi(biologis), juga tidak hanya dari segi akalnya (rasionalis). Kaum eksistensial melihat manusia sebagai makhluk yang senantiasa berkembang secara dinamis, bukan berkembang dari segi fisik saja, tapi juga dari segi pikiran dan perasaannya. Karena manusia bisa terus belajar dan memahami moral."

"Manusia misalnya, tidak sama dengan kursi. Kursi eksistensinya sudah penuh, maksudnya ia akan senantiasa menjadi kursi, dan tidak akan pernah berubah menjadi meja atau handphone."

"Sedangkan manusia eksistensinya tidak pernah penuh, hari ini mungkin ia bodoh, tapi esok akan lebih pintar. Hari ini bisa jadi baik tapi setahun kemudian jahat. Hari ini bisa jadi bercita-cita menjadi penulis, beberapa waktu kemudian ingin jadi pengusaha. Demikian manusia terus menerus memenuhi eksistensinya dengan terus "menjadi". Ini perbedaan eksistensi manusia dengan hewan atau benda dalam pemikiran Sartre."

"Oh iya jika belajar tentang sains, jangan buru-buru membandingkan dengan teks agama seperti ayat atau hadits. Itu bertentangan dengan prinsip pengetahuan. Teks agama sifatnya mutlak, sedangkn ilmu itu dinamis dan relatif. Kita yakin alquran itu suci dan tidak pernah salah, sedangkan ilmu ada kemungkinan untuk salah. Maka sebenarnya tidak etis jika membandingkan pernyataan sains dengan ayat-ayat Alqur'an."


















  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar