
"Layang-layang. Impian terbesarku saat itu cuma satu. Ya, menerbangkan layang-layang itu hingga ke Langit tertinggi. Bagaimana aku menerbangkan layang-layang itu,hingga menyapa langit yang tak bisa kusentuh keindahannya. Bagiku, langit itu seperti gumpalan permen kapas, yang rasanya begitu manis dan legit di lidah"
Kembali kutelan salivaku yang kini
tertahan ditenggorokan. Kupandangi kembali gumpalan awan yang seolah
menari-nari memanggilku. Perlahan senyumku mengembang, kala mengenang masa
lalu, mengenang masa-masa yang sangat berkesan dalam hidupku.
“Ayah, layang- layang Azan sudah jadi
nih, yuk kita terbangkan bersama...”, Sebuah suara riang memanggilku, memecah
khayalku yang mulai menguak memori-memori yang dulu pernah kulalui.
Nampak, putraku Azan, dengan senyum
cerahnya menghampiriku dengan selembar layang- layang yang begitu indah corak,
dan warnanya. Ah, layang-layang. Lembaran kertas warna-warni itu seolah
membuatku berkelana mengarungi masa lalu. Masa-masa sulit yang begitu nikmat
rasanya. Terasa jelas, bekas pukulan mama’ yang waktu itu menyuruhku ke mesjid untuk
mengaji, dan belajar ilmu agama pada ustadz dan ustadzah, sedangkan aku dengan
bandelnya malah sembunyi-sembunyi membuat layang- layang impian, yang waktu itu
tak mungkin terbeli dengan pendapatan mama’ sebagai penjual kue keliling yang
bisa dibilang pas-pasan. Pas mau makan, dan beras habis terpaksa ngutang. Teriakan
mama’ masih terasa jelas getarannya di telinga. Serta bekas luka di pelipis
kiriku yang menjadi tanda bahwa layang-layang pernah menjadi substansi penting
pembentuk diriku saat ini.
Layang-layang. Teringat kali pertama
aku berkenalan dengan benda yang menurutku amat sangat menakjubkan kala itu.
Layang-layang berbentuk burung garuda milik Ahmad, teman mengajiku. Dengan
bangga, Ahmad memamerkan layang-layang yang dihadiahkan oleh bapaknya, yang
baru saja pulang Dinas dari Bali.
“Ling, lihatlah hadiah dari bapakku
ini...sungguh elok, bukan?”, Ucapnya pongah sembari membusungkan dada.
Aku terpana. Menganga takjub pada
keindahan benda yang belum pernah kulihat sebelumnya. Benda berbentuk miniatur
burung, tapi bahannya dari kertas warna-warni seperti pelangi, dengan untaian
pita sebagai ekornya, nampak meliuk-liuk ketika diterpa oleh angin.Sangat
indah. Sungguh.
“Benda apa itu?”, Tanyaku refleks.
Sadar bahwa mempertanyakan hal itu merupakan sebuah kekeliruan, membuatku
menyadari bahwa dengan mempertanyakan nama benda itu, sama dengan membiarkan
diriku menjadi bahan olok-olokan Ahmad, dan kawan-kawan. Segera kukatupkan
bibirku. Namun, mataku masih membeliak lebar. Takjub akan pesonanya.
“AHAHAHAHA.....Ling...kau tak tahu nama
benda ini? Kau tak pernah lihat sebelumnya?”,Tawa Ahmad semakin pecah, demi
melihat ekspresiku yang seperti pesakitan yang sedang didakwa karena mencuri
seekor ayam.
“Ap...apa-apaan...ti...tidak..kok...ak..aku...tau
namanya...hanya saja...bentuknya berbeda dari biasanya”,Tergagap aku mencoba
memberi alasan.
“Halah...mengaku sajalah, kau tak
tau...itu wajar..sebab mana pernah kau lihat layang-layang semacam ini
diterbangkan di sekitar lorong-lorong rumahmu yang sempit itu?Hahaha”, Lanjut
Ahmad semakin bangga.
“Tsk...kuakui benda ini begitu memikat
hati. Apa namanya? dan apa katamu tadi? diterbangkan? terbang? di langit?
Maksudnya ia bisa terbang seperti burung sungguhan? ,”Tanyaku pada akhirnya.
Rupanya rasa penasaranku mengalahkan gengsiku.
“Tentulah, benda ini begitu istimewa,
namanya layang-layang, bukan sembarang layang-layang biasa yang berbentuk jajar
genjang itu”
“Layang-layang?
Jadi namanya layang-layang? Benda ini bisa melayang terbang? terbang? ke
langit? waaahhh....asyiknya....”
“ Bagaimana menerbangkannya? Katamu
tadi benda ini bisa diterbangkan hingga ke langit, bukan?”
“Hahahaha, lihat...benang yang kuulur ini akan aku sambungkan pada rangka
layang-layang ini, lalu dengan tolakan yang tepat, saya bisa menerbangkan
layang-layang ini, dan akan terlihat seolah melayang-layang di langit”, Ucap
Ahmad memberi penjelasan.
“ Huwaaa...sepertinya seru...ayo
ikat...ikat...”, Aku menyentuh layang-layang itu hati-hati, merasakan
teksturnya di kulit telapak tanganku.
Sontak Ahmad menepis tanganku. Aku
terhenyak. Kaget.
“Heh...benda ini boleh dilihat, tapi
tak boleh disentuh. Hanya aku yang dapat menyentuhnya, lagipula ia begitu
cantik dan rapuh, memegangnya harus berhati-hati,sebab layang-layang ini jauh-jauh
didatangkan dari Bali”, Ahmad nampak menimang dan mengelus-elus tiruan burung
itu dengan tingkah sayang yang dibuat-buat, dan nada suara yang
dimanja-manjakan. Memuakkan.
“Ahmad...ayolah kita terbangkan
layang-layangmu itu, kami sudah tidak sabar,” Sebuah seruan nampak
mengagetkanku. Rupanya Toto, dan Tri, teman karib Ahmad.Kemana-mana mereka
selalu bersama-sama. Ahmad bertingkah layaknya ketua geng, aku lebih suka
menyebut bentuk pertemanan mereka itu sebagai sebuah geng. Geng Tukang Pamer.
“Ayolah...kita Let’s GO !!! Bro!!!”,
Ahmad dan kawan-kawannya perlahan mulai mengatur langkah menjauhiku.
“Apa-apaan
ini, layang-layang itu...ah...aku penasaran...bagaimana ia dapat melayang di
angkasa...bagaimana...ah...jangan pergi layang-layang...tunggu...”
****
Ling mengendap-endap, memelankan
langkah kaki kecilnya. Berusaha tak menimbulkan suara sekecil mungkin. Matanya
nyalang,memerhatikan sekitar. Mengawasi jejak-jejak Ahmad dan kawan- kawan yang
nampaknya menuju ke suatu tempat. Sekali waktu, ia bersembunyi di balik tembok-
tembok pada petak-petak rumah kontrakan di sepanjang lorong sempit itu, ketika
Ahmad, atau Toto nampak berbalik memastikan, kalau ia tak mengikuti mereka.
“Mad, sepertinya ada yang mengikuti
kita”,Bisik Toto pada Ahmad yang memimpin perjalanan.
“Ah, biar sajalah. Biar kita tunjukkan
ke dia betapa hebat, dan indahnya layang-layangku ini, Hahaha...biarlah sekali-kali kita
kalahkan dia,cukuplah dia menang di wilayah hafal-menghafal, dan mengatur
strategi mencetak gol...Hahaha...mari kita bersenang-senang...”
Ling yang mendengar hal itu, mulai
tumbuh rasa gengsinya, tapi rasa penasarannya,rasa keingintahuannya mampu
meredam geliat ego yang menghadangnya.
Sekonyong-konyong, Ahmad dan
kawan-kawan menghentikan langkahnya tepat di depan lapangan tempat mereka biasa
bermain sepak bola. Ling memperhatikan tingkah ketiganya dari balik pohon
beringin, yang berjarak sekitar 1 meter
dari lapangan tersebut.Diperhatikannya Ahmad, dengan cekatan mengikatkan ujung
benang pada rangka layang-layang itu, lalu menyerahkannya pada Toto. Toto
memegang layangan itu dengan ujung jarinya. Tri mengulur benang layangan itu,
lantas menyerahkannya pada Ahmad. Direntangkannya benang yang menjulur itu,
hingga layang-layang yang dipegang oleh Toto, nampak tertarik dengan kuat, dan
melebar. Sepersekian detik, dengan cepat Ahmad menarik benang itu, sedang Toto
mulai menolak layang-layang itu ke udara. Dan, seketika layang-layang itu
tertolak ke udara. Begitu menakjubkan. Layang-layang itu kini menari di udara.
Kibasan ekornya seolah mencumbu angin, mencolek awan yang menggumpal laksana
permen kapas putih. Ling terpana. Sungguh ia betul-betul terpesona pada benda
bernama layang-layang ini.
“Layang-layang
itu terbang...melayang...sungguhan...hingga ke langit...warna-warni...sungguh
indah... mengapa bisa seperti itu?”
****
“Ma’...mama’....wuih...betapa kerennya
layang-layang punya si Ahmad, melayang-layang di udara,perlahan semakin tinggi,
dan tinggi ke langit, terus...terus...terbang tinggi...sampai awan ma’...”. Ling mulai menirukan gerakan
layang-layang yang meliuk-liuk di udara dengan gerakan tangannya, kepalanya
maju mundur, mencoba memberikan visualisasi yang tepat pada Ibunya.
“La..yang-layang...? la...layang-layang
apa..katamu??” Tanya Ibunya.
“Iya, Ma’ layang-layang...rupanya
seperti burung garuda, Lambang negara kita tercinta, Indonesia..ma’,
warna-warni pula...ada ekornya dari pita-pita...berkilauan saat diterpa sinar
mentari, indah sekali ma’...”. Mata
Ling nampak berbinar-binar saat mendeskripsikan layang-layang itu.
“Terus...maksudmu memberitahukannya
pada mama’ apa nak..?”
“Hm...itu ma’...bisakah saya minta uang
jajan sedikit lebih tiap harinya untuk ditabung..dan..dan...untuk saya belikan
layang-layang ma’...?”
“Hmm...Ling anakku, kamu tahu kan
berapa penghasilan mama’ sebagai seorang penjual kue keliling? Jangankan untuk
membelikanmu layang-layang, uang SPP mu saja sering tertunggak. Syukur, jika
sehari-hari kita bisa makan.”
Ling diam. Ling memandang sosok mama’
yang saat ini duduk di hadapannya, lingkaran mata panda menambahkan kesan
smokey pada manik coklatnya. Mata yang sering menangis pada sepertiga malam,
mendo’akannya agar Ling bisa menjadi ‘orang’ nantinya.
“Ling tau ma’, karena itu Ling rajin
belajar, jadi Ling dapat dua beasiswa sekaligus. Beasiswa untuk siswa kurang
mampu, dan beasiswa untuk siswa berprestasi...”
“Iya...nak..tapi, kebutuhan makan
sehari-hari? Harga sembako melonjak pesat, apalagi baru-baru ini pemerintah
menjebak kita, dengan sogokan gas elpiji, dan kompor gas yang kurang layak itu,
lantas menaikkan harga gas yang notabene sudah jadi kebutuhan kita sehari-hari”
“Wuih...mama’
canggih...bahasanya...”,Puji Ling, berharap Ibunya memberikannya uang saku
lebih.
“Aduh..Ling, meski di rumah kita tidak
ada tipi, setidaknya mama’ rajin-rajin dengar berita di radio tua kesayangan
almarhum bapakmu”, Mata ibunya kini nampak meredup.
Ling. Bukan nama sebenarnya. Namanya
Mukhlis, cuma karena ibunya seorang penjual kue keliling, di lingkungan ia
tinggal, ia dipanggil Ling. Seorang anak yatim, ditinggal mati bapaknya, saat
usianya tiga tahun. Bapaknya seorang guru yang belum tersertifikasi. Makanya,
saat bapak Ling meninggal, Ibu Ling tidak menerima tunjangan apapun dari
sekolah. Keluarga Ling baru pindah ke kota itu, sesaat setelah bapaknya
meninggal. Ibu Ling tidak sanggup menahan kerinduan yang membuncah, kala ia
mengingat kembali romantismenya dengan suaminya di rumah mungil itu. Maka ia
berinisiatif membawa serta Ling untuk hijrah ke kota kelahirannya di Makassar.
Kini usia Ling sembilan tahun. Ia sudah
duduk di kelas tiga di Madrasah Ibtida’iyah. Ibu Ling seorang lulusan strata
satu pendidikan keguruan.Namun, ia menyembunyikan latar belakang pendidikannya,
di lingkungan sekitarnya saat ini, dan di hadapan anaknya, Ling. Ia ingin
mendidik Ling dengan tangannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa pendidikan
itu, ijazah yang ia miliki itu bukan untuk diperdagangkan oleh
instansi-instansi pendidikan yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan. Maka, ia
menjadi penjual kue keliling, di sela-sela aktivitasnya menerima orderan
jahitan. Lumayan
untuk uang makan, bayar kontrakan, dan tabungan untuk masa depan Ling. Meski
sibuk bekerja, Ibu Ling tak pernah menelantarkan Ling, dengan aneka pertanyaan
anehnya. Selain itu, untuk memanfaatkan ilmunya, Ibu Ling kerap mengajak
teman-teman Ling belajar bersama di rumah.
Tak seperti biasanya, kali ini Ling
uring-uringan, ia ingin sekali memiliki layang-layang seindah yang dimiliki
Ahmad. Seharian ia merayu ibunya, untuk memberinya uang jajan sedikit lebih,
sebab uang jajan biasanya ia tabung untuk membeli buku. Tapi kali ini lain, dia
merasa layang-layang itu terlalu menarik hatinya, egonya untuk memiliki
layang-layang yang sama. Keindahan layang-layang itu menari-nari di pelupuk
matanya. Membayangkan betapa menyenangkannya, jika ia dapat menerbangkan
layang-layang seindah itu, dan ketika layang-layang itu terbang di udara
melintasi awan, yang seperti gulali itu, mencoleknya, dan membuat Ling dapat mencicipi
rasa manis gumpalan awan yang dipersepsikannya sebagai permen kapas yang manis.
Tobe continued….









0 komentar:
Posting Komentar