RSS
Post Icon

TERJEBAK NOSTALGIA (LAYANG-LAYANG)







"Layang-layang. Impian terbesarku saat itu cuma satu. Ya, menerbangkan layang-layang itu hingga ke Langit tertinggi. Bagaimana aku menerbangkan layang-layang itu,hingga menyapa langit yang tak bisa kusentuh keindahannya. Bagiku, langit itu seperti gumpalan permen kapas, yang rasanya begitu manis dan legit di lidah"


Kembali kutelan salivaku yang kini tertahan ditenggorokan. Kupandangi kembali gumpalan awan yang seolah menari-nari memanggilku. Perlahan senyumku mengembang, kala mengenang masa lalu, mengenang masa-masa yang sangat berkesan dalam hidupku.
“Ayah, layang- layang Azan sudah jadi nih, yuk kita terbangkan bersama...”, Sebuah suara riang memanggilku, memecah khayalku yang mulai menguak memori-memori yang dulu pernah kulalui.
Nampak, putraku Azan, dengan senyum cerahnya menghampiriku dengan selembar layang- layang yang begitu indah corak, dan warnanya. Ah, layang-layang. Lembaran kertas warna-warni itu seolah membuatku berkelana mengarungi masa lalu. Masa-masa sulit yang begitu nikmat rasanya. Terasa jelas, bekas pukulan mama’ yang waktu itu menyuruhku ke mesjid untuk mengaji, dan belajar ilmu agama pada ustadz dan ustadzah, sedangkan aku dengan bandelnya malah sembunyi-sembunyi membuat layang- layang impian, yang waktu itu tak mungkin terbeli dengan pendapatan mama’ sebagai penjual kue keliling yang bisa dibilang pas-pasan. Pas mau makan, dan beras habis terpaksa ngutang. Teriakan mama’ masih terasa jelas getarannya di telinga. Serta bekas luka di pelipis kiriku yang menjadi tanda bahwa layang-layang pernah menjadi substansi penting pembentuk diriku saat ini.
Layang-layang. Teringat kali pertama aku berkenalan dengan benda yang menurutku amat sangat menakjubkan kala itu. Layang-layang berbentuk burung garuda milik Ahmad, teman mengajiku. Dengan bangga, Ahmad memamerkan layang-layang yang dihadiahkan oleh bapaknya, yang baru saja pulang Dinas dari Bali.
“Ling, lihatlah hadiah dari bapakku ini...sungguh elok, bukan?”, Ucapnya pongah sembari membusungkan dada.
Aku terpana. Menganga takjub pada keindahan benda yang belum pernah kulihat sebelumnya. Benda berbentuk miniatur burung, tapi bahannya dari kertas warna-warni seperti pelangi, dengan untaian pita sebagai ekornya, nampak meliuk-liuk ketika diterpa oleh angin.Sangat indah. Sungguh.
“Benda apa itu?”, Tanyaku refleks. Sadar bahwa mempertanyakan hal itu merupakan sebuah kekeliruan, membuatku menyadari bahwa dengan mempertanyakan nama benda itu, sama dengan membiarkan diriku menjadi bahan olok-olokan Ahmad, dan kawan-kawan. Segera kukatupkan bibirku. Namun, mataku masih membeliak lebar. Takjub akan pesonanya.
“AHAHAHAHA.....Ling...kau tak tahu nama benda ini? Kau tak pernah lihat sebelumnya?”,Tawa Ahmad semakin pecah, demi melihat ekspresiku yang seperti pesakitan yang sedang didakwa karena mencuri seekor ayam.
“Ap...apa-apaan...ti...tidak..kok...ak..aku...tau namanya...hanya saja...bentuknya berbeda dari biasanya”,Tergagap aku mencoba memberi alasan.
“Halah...mengaku sajalah, kau tak tau...itu wajar..sebab mana pernah kau lihat layang-layang semacam ini diterbangkan di sekitar lorong-lorong rumahmu yang sempit itu?Hahaha”, Lanjut Ahmad semakin bangga.
“Tsk...kuakui benda ini begitu memikat hati. Apa namanya? dan apa katamu tadi? diterbangkan? terbang? di langit? Maksudnya ia bisa terbang seperti burung sungguhan? ,”Tanyaku pada akhirnya. Rupanya rasa penasaranku mengalahkan gengsiku.
“Tentulah, benda ini begitu istimewa, namanya layang-layang, bukan sembarang layang-layang biasa yang berbentuk jajar genjang itu”
“Layang-layang? Jadi namanya layang-layang? Benda ini bisa melayang terbang? terbang? ke langit? waaahhh....asyiknya....”
“ Bagaimana menerbangkannya? Katamu tadi benda ini bisa diterbangkan hingga ke langit, bukan?”
“Hahahaha, lihat...benang yang  kuulur ini akan aku sambungkan pada rangka layang-layang ini, lalu dengan tolakan yang tepat, saya bisa menerbangkan layang-layang ini, dan akan terlihat seolah melayang-layang di langit”, Ucap Ahmad memberi penjelasan.
“ Huwaaa...sepertinya seru...ayo ikat...ikat...”, Aku menyentuh layang-layang itu hati-hati, merasakan teksturnya di kulit telapak tanganku.
Sontak Ahmad menepis tanganku. Aku terhenyak. Kaget.
“Heh...benda ini boleh dilihat, tapi tak boleh disentuh. Hanya aku yang dapat menyentuhnya, lagipula ia begitu cantik dan rapuh, memegangnya harus berhati-hati,sebab layang-layang ini jauh-jauh didatangkan dari Bali”, Ahmad nampak menimang dan mengelus-elus tiruan burung itu dengan tingkah sayang yang dibuat-buat, dan nada suara yang dimanja-manjakan. Memuakkan.
“Ahmad...ayolah kita terbangkan layang-layangmu itu, kami sudah tidak sabar,” Sebuah seruan nampak mengagetkanku. Rupanya Toto, dan Tri, teman karib Ahmad.Kemana-mana mereka selalu bersama-sama. Ahmad bertingkah layaknya ketua geng, aku lebih suka menyebut bentuk pertemanan mereka itu sebagai sebuah geng. Geng Tukang Pamer.
“Ayolah...kita Let’s GO !!! Bro!!!”, Ahmad dan kawan-kawannya perlahan mulai mengatur langkah menjauhiku.
“Apa-apaan ini, layang-layang itu...ah...aku penasaran...bagaimana ia dapat melayang di angkasa...bagaimana...ah...jangan pergi layang-layang...tunggu...”
****

 

Ling mengendap-endap, memelankan langkah kaki kecilnya. Berusaha tak menimbulkan suara sekecil mungkin. Matanya nyalang,memerhatikan sekitar. Mengawasi jejak-jejak Ahmad dan kawan- kawan yang nampaknya menuju ke suatu tempat. Sekali waktu, ia bersembunyi di balik tembok- tembok pada petak-petak rumah kontrakan di sepanjang lorong sempit itu, ketika Ahmad, atau Toto nampak berbalik memastikan, kalau ia tak mengikuti mereka.
“Mad, sepertinya ada yang mengikuti kita”,Bisik Toto pada Ahmad yang memimpin perjalanan.
“Ah, biar sajalah. Biar kita tunjukkan ke dia betapa hebat, dan indahnya layang-layangku  ini, Hahaha...biarlah sekali-kali kita kalahkan dia,cukuplah dia menang di wilayah hafal-menghafal, dan mengatur strategi mencetak gol...Hahaha...mari kita bersenang-senang...”
Ling yang mendengar hal itu, mulai tumbuh rasa gengsinya, tapi rasa penasarannya,rasa keingintahuannya mampu meredam geliat ego yang menghadangnya.
Sekonyong-konyong, Ahmad dan kawan-kawan menghentikan langkahnya tepat di depan lapangan tempat mereka biasa bermain sepak bola. Ling memperhatikan tingkah ketiganya dari balik pohon beringin, yang berjarak sekitar  1 meter dari lapangan tersebut.Diperhatikannya Ahmad, dengan cekatan mengikatkan ujung benang pada rangka layang-layang itu, lalu menyerahkannya pada Toto. Toto memegang layangan itu dengan ujung jarinya. Tri mengulur benang layangan itu, lantas menyerahkannya pada Ahmad. Direntangkannya benang yang menjulur itu, hingga layang-layang yang dipegang oleh Toto, nampak tertarik dengan kuat, dan melebar. Sepersekian detik, dengan cepat Ahmad menarik benang itu, sedang Toto mulai menolak layang-layang itu ke udara. Dan, seketika layang-layang itu tertolak ke udara. Begitu menakjubkan. Layang-layang itu kini menari di udara. Kibasan ekornya seolah mencumbu angin, mencolek awan yang menggumpal laksana permen kapas putih. Ling terpana. Sungguh ia betul-betul terpesona pada benda bernama layang-layang ini.
“Layang-layang itu terbang...melayang...sungguhan...hingga ke langit...warna-warni...sungguh indah... mengapa bisa seperti itu?”
****

 

“Ma’...mama’....wuih...betapa kerennya layang-layang punya si Ahmad, melayang-layang di udara,perlahan semakin tinggi, dan tinggi ke langit, terus...terus...terbang tinggi...sampai awan ma’...”. Ling mulai menirukan gerakan layang-layang yang meliuk-liuk di udara dengan gerakan tangannya, kepalanya maju mundur, mencoba memberikan visualisasi yang tepat pada Ibunya.
“La..yang-layang...? la...layang-layang apa..katamu??” Tanya  Ibunya.
“Iya, Ma’ layang-layang...rupanya seperti burung garuda, Lambang negara kita tercinta, Indonesia..ma’, warna-warni pula...ada ekornya dari pita-pita...berkilauan saat diterpa sinar mentari, indah sekali ma’...”. Mata Ling nampak berbinar-binar saat mendeskripsikan layang-layang itu.
“Terus...maksudmu memberitahukannya pada mama’ apa nak..?”
“Hm...itu ma’...bisakah saya minta uang jajan sedikit lebih tiap harinya untuk ditabung..dan..dan...untuk saya belikan layang-layang ma’...?”
“Hmm...Ling anakku, kamu tahu kan berapa penghasilan mama’ sebagai seorang penjual kue keliling? Jangankan untuk membelikanmu layang-layang, uang SPP mu saja sering tertunggak. Syukur, jika sehari-hari kita bisa makan.”
Ling diam. Ling memandang sosok mama’ yang saat ini duduk di hadapannya, lingkaran mata panda menambahkan kesan smokey pada manik coklatnya. Mata yang sering menangis pada sepertiga malam, mendo’akannya agar Ling bisa menjadi ‘orang’ nantinya.
“Ling tau ma’, karena itu Ling rajin belajar, jadi Ling dapat dua beasiswa sekaligus. Beasiswa untuk siswa kurang mampu, dan beasiswa untuk siswa berprestasi...”
“Iya...nak..tapi, kebutuhan makan sehari-hari? Harga sembako melonjak pesat, apalagi baru-baru ini pemerintah menjebak kita, dengan sogokan gas elpiji, dan kompor gas yang kurang layak itu, lantas menaikkan harga gas yang notabene sudah jadi kebutuhan kita sehari-hari”
“Wuih...mama’ canggih...bahasanya...”,Puji Ling, berharap Ibunya memberikannya uang saku lebih.
“Aduh..Ling, meski di rumah kita tidak ada tipi, setidaknya mama’ rajin-rajin dengar berita di radio tua kesayangan almarhum bapakmu”, Mata ibunya kini nampak meredup.
Ling. Bukan nama sebenarnya. Namanya Mukhlis, cuma karena ibunya seorang penjual kue keliling, di lingkungan ia tinggal, ia dipanggil Ling. Seorang anak yatim, ditinggal mati bapaknya, saat usianya tiga tahun. Bapaknya seorang guru yang belum tersertifikasi. Makanya, saat bapak Ling meninggal, Ibu Ling tidak menerima tunjangan apapun dari sekolah. Keluarga Ling baru pindah ke kota itu, sesaat setelah bapaknya meninggal. Ibu Ling tidak sanggup menahan kerinduan yang membuncah, kala ia mengingat kembali romantismenya dengan suaminya di rumah mungil itu. Maka ia berinisiatif membawa serta Ling untuk hijrah ke kota kelahirannya di Makassar.
Kini usia Ling sembilan tahun. Ia sudah duduk di kelas tiga di Madrasah Ibtida’iyah. Ibu Ling seorang lulusan strata satu pendidikan keguruan.Namun, ia menyembunyikan latar belakang pendidikannya, di lingkungan sekitarnya saat ini, dan di hadapan anaknya, Ling. Ia ingin mendidik Ling dengan tangannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa pendidikan itu, ijazah yang ia miliki itu bukan untuk diperdagangkan oleh instansi-instansi pendidikan yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan. Maka, ia menjadi penjual kue keliling, di sela-sela aktivitasnya menerima orderan jahitan. Lumayan untuk uang makan, bayar kontrakan, dan tabungan untuk masa depan Ling. Meski sibuk bekerja, Ibu Ling tak pernah menelantarkan Ling, dengan aneka pertanyaan anehnya. Selain itu, untuk memanfaatkan ilmunya, Ibu Ling kerap mengajak teman-teman Ling belajar bersama di rumah.
Tak seperti biasanya, kali ini Ling uring-uringan, ia ingin sekali memiliki layang-layang seindah yang dimiliki Ahmad. Seharian ia merayu ibunya, untuk memberinya uang jajan sedikit lebih, sebab uang jajan biasanya ia tabung untuk membeli buku. Tapi kali ini lain, dia merasa layang-layang itu terlalu menarik hatinya, egonya untuk memiliki layang-layang yang sama. Keindahan layang-layang itu menari-nari di pelupuk matanya. Membayangkan betapa menyenangkannya, jika ia dapat menerbangkan layang-layang seindah itu, dan ketika layang-layang itu terbang di udara melintasi awan, yang seperti gulali itu, mencoleknya, dan membuat Ling dapat mencicipi rasa manis gumpalan awan yang dipersepsikannya sebagai permen kapas yang manis.

Tobe continued….


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar