BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Altruisme adalah perhatian terhadap
kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri (Campbell R.L., 2006)
.Sehingga altruisme menjelaskan sebuah perhatian yang tidak mementingkan diri
sendiri untuk kebutuhan org lain. Jadi, ada tiga komponen dlm altruisme, yaitu loving
others, helping them doing their time of need, dan making sure that
they are appreciated (Linley, 2006) . Perilaku ini merupakan
kebaikkan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa
agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Altruisme
adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri.
Altruisme dibedakan dengan perasaan loyalitas
dan kewajiban (de Waal F.B.M., 2008) .Altruisme memusatkan perhatian pada
motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa
memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan
moral dari individu tertentu, seperti Tuhan, raja, organisasi khusus, seperti
pemerintah, atau konsep abstrak, seperti patriotisme, dan sebagainya. Beberapa
orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya
tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan.
Pada literatur terdahulu, altruism memiliki
hubungan yang erat dengan perasaan empati (Sesardic N., 1999). Seseorang yang
altruis memiliki motivasi altruistik, keinginan untuk selalu menolong orang
lain. Motivasi altruistik tersebut muncul karena ada alasan internal di dalam
dirinya yang menimbulkan positive feeling sehingga dapat memunculkan
tindakan untuk menolong orang lain(Gintisa H. B., 2002; Linley, 2006).
Menurut Comte (Campbell R.L., 2006) altruisme adalah
tindakan mutlak dari manusia, untuk mencapai suatu sikap pengabdian tanpa
pamrih terhadap orang lain atau masyarakat. Sedangkan menurut Rushton (F. D. W.
Rushton J.P., Neale M.C., Blizard R.A., Eysenck H.J., 1984; F. D. W. Rushton
J.P., Neale M.C., Nias D.K.B, Eysenck H.J., 1986), perilaku altruistik adalah
berbagai macam perilaku kebaikkan dalam sehari-hari, dengan berbagi sumber daya
yang langka, dan mendahulukan kepentingan atau keselamatan orang lain
dibandingkan diri sendiri. berbagai macam perilaku kebaikkan dalam sehari-hari,
dengan berbagi sumber daya yang langka, dan mendahulukan kepentingan atau
keselamatan orang lain dibandingkan diri sendiri.
Masyarakat adat Tana Lotong adalah sebutan
bagi masyarakat adat yang tersebar di Kecamatan Kalumpang, dan Kecamatan
Bonehau, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Secara geografis, letak
wilayahnya sangat terpencil. Kondisi jalan tanah berbatu, melintasi sekitar 20
anak sungai, dan menerobos kanopi hutan. Dengan medan yang cukup rawan, kondisi
jalan yang masih dalam tahap perbaikan, dan beberapa anak sungai yang
berpotensi meluap menyebabkan akses menuju wilayah masyarakat adat Tana Lotong
cukup sulit dijangkau (Kompas.com, 5/9/2012)
Kondisi geografis yang jauh dari perkotaan tersebut membuat masyarakat
adat Tana Lotong saat ini masih tetap eksis berusaha sendiri untuk memenuhi
segala kebutuhan hidupnya tanpa menggantungkan harapan dengan dunia luar. Di
antara penyebab eksisnya masyarakat adat Tana Lotong sampai saat ini adalah
Masyarakat adat Tana Lotong sebagai salah satu komunitas adat yang masih
memegang teguh adat istiadat, dan kebudayaan yang turun temurun diwariskan oleh
nenek moyangnya. Rumah adat Banua Batang
yang mengandung nilai filosofis yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya
hingga saat ini. Sebagaimana penuturan Subyek A:
“....Semua bagian rumah punya
filosofi, tiap-tiap balok-baloknya dan itulah panjang kalo diuraikan tiap balok
punya makna semua....pertama, ada tiga ruangan di bagian atas, meliputi
Paladan, semacam ruangan seperti teras untuk menerima tamu. Paladan tidak
berdinding, menandakan keterbukaan masyarakatnya....”
Dari pemaparan
di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Altruisme yang
terkandung pada rumah adat banua batang
pada Masyarakat Adat Tana Lotong.
B.
PERTANYAAN
PENELITIAN
Beberapa pertanyaan penelitian berikut ini disusun untuk
memberikan arah penelitian agar lebih terfokus pada tema-tema yang terkait.
Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan penelitian secara garis besar yang
telah disusun:
1.
Bagaimana wujud altruisme yang
terkandung di Masyarakat Adat Tana
Lotong?
2.
Bagaimana bentuk wujud altruisme pada Rumah adat masyarakat adat Tana Lotong?
C.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.
Tujuan
Adapun
tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran eksistensi pada
wujud altruisme yang terkandung pada masyarakat adat Tana Lotong.
2.
Manfaat
a.
Manfaat Teoritis
Penelitian
ini dapat memperluas khazanah pengetahuan di bidang psikologi khususnya
psikologi sosial, dan psikologi kepribadian.
b.
Manfaat Praktis
1) Bagi
Masyarakat
Agar
masyarakat dapat mengambil pelajaran dari budaya lokal Indonesia yang masih
dalam ranah budaya timur, sehingga dapat memperkuat karakter bangsa. Bagi guru
Agar
penelitian ini dapat menjadi bahan ajar dalam proses pendidikan moral siswa.
2) Bagi
Orangtua
Agar
penelitian ini dapat menjadi kerangka acuan dalam mewujudkan pola asuh yang
sehat terhadap anak.
3) Bagi
Masyarakat Adat Tana Lotong
Agar
dapat mempertahankan tradisi dan budaya yang dapat memfilter segala pengaruh
negatif yang masuk dari luar.
4) Bagi
Peneliti
Agar
dapat memahami psikologi timur, yang sebenarnya lebih tepat diterapkan dalam
kehidupan Bangsa Indonesia yang berbeda dengan budaya barat.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Altruisme
1.
Pengertian
Menurut Walstern, dan Piliavin (Deaux, 1976). Perilaku
altruistik adalah perilaku menolong yang timbul bukan karena adanya tekanan
atau kewajiban, melainkan tindakan tersebut bersifat suka rela dan tidak
berdasarkan norma–norma tertentu, tindakan tersebut juga merugikan penolong,
karena meminta pengorbanan waktu, usaha,uang dan tidak ada imbalan atau pun reward
dari semua pengorbanan .
Definisi lain menyebutkan bahwa altruisme adalah tindakan
suka rela yang dilakukan oleh seseorang atau pun kelompok orang untuk menolong
orang lain tampa mengharapkan imbalan apa pun, kecuali mungkin perasaan
telah melakukan perbuatan baik. Sears dkk,(1994) dengan defenisi ini, apakah
suatu tindakan altuistik atau tidak, tergantung pada tujuan penolong, orang
yang tidak dikenal mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menolong korban dari
mobil yang terbakar, dan menghilang begitu saja, merupakan tindakan altruistik,
lebih lanjut dijelaskan perilaku altruistik adalah salah satu dari sisi sifat
manusia dengan rela untuk berbuat sesuatu untuk orang lain, tanpa berharap
mendapatkan imbalan apa pun, sebaliknya egoisme mengunakan kepentingan sendiri
diatas kepentingan orang lain untuk mengejar kesenagan.
Ajaran islam altruisme merupakan tindakan untuk menolong
orang lain secara iklas karena islam menilai kebaikan dan perbuatan
seseorang berdasarkan keiklasan untuk mengharapkan ridho Allah swt, sehingga
setiap amal yang dilakukan hanya semata-mata karena Allah swt, menafkahkan
harta ditetapkan sebagai perbuatan baik, dan berpahala besar sebap sanggat
bermanfaat untuk orang banyak, tindakan yang dilakukan seperti ini merupakan
manifestasi dari bentuk kesolehan sosial.(Tasmara, 2001).
Setiap
muslim harus berusaha memberikan kontribusi dan peran nyata yang bermanfaat
sehingga menjadikan kehidupan di dalam masyarakat sebagai kesempatan untuk
mengaktualisasikan diri, Rasulullah saw bersabda bahwa.
“ Sebaik – baiknya manusia adalah yang lebih
bermanfaat bagi manusia yang lain “ (H-R Thabrani ).
Sebagai mahluk sosial, seorang muslim diperintahkan untuk
memberikan pertolongan dan bantuan kepada sesama. Terdapat kesamaan
kesimpulan Menurut Leeds (Staub, 1978) bahwa suatu tindakan yang
dapat dikatakan altruisme apa bila memenuhi tiga kriteria yaitu:
- Hasilnya
baik bagi penolong maupun yang ditolong
- Tindakan
tersebut dilakukan secara sukarela tindakan tersebut dilakukan atas
dasar empati bukan karena paksaan
- Tindakan
itu bukan untuk kepentingan diri sendiri, karena tindakan tersebut
mengandung resiko tinggi pelaku, pelaku tidak mengharapkan imbalan materi,
tidak untuk memperoleh persahabatan dan keintiman
Kesimpulannya bahwa prilaku altruisme adalah tindakan
diberikankan atau ditujukan pada orang lain dan memberi manfaat
secara positif bagi orang lain atau orang yang dikenai tindakan tersebut dan
dilakukan suka rela tampa mengharapkan imbalan apa pun, atau hanya sekedar
untuk persahabatan, sikap ini tidak berdasarkan tekanan atau norma bahkan sikap
ini dapat merugikan bagi sipenolong.
B.
Masyarakat Tana Lotong
1.
Pengertian
Masyarakat lokal
yang menerapkan cara hidup tradisional di daerah pedesaan, yang nyaris tak
tersentuh teknologi umumnya dikenal sebagai masyarakat suku, komunitas asli
atau masyarakat hukum adat, penduduk asli atau masyarakat tradisional (Dasmaan dalam
M. Indrawan, 2007).
Masyarakat
adat Tana Lotong (Tanah Subur). Tana Lotong meliputi desa-desa di Kecamatan
Kalumpang, dan Kecamatan Bonehau di pedalaman Kabupaten Mamuju. Masyarakat
setempat menyebut diri sebagai masyarakat adat Tana Lotong. Lokasi itu berjarak
135 kilometer dari pusat kabupaten dan provinsi di Mamuju. Sejauh 60 kilometer
di antaranya melalui jalan tanah berbatu, melintasi sekitar 28 anak sungai, dan
menerobos kanopi hutan. Tanah Lotong artinya tanah subur. Diberkati dengan
sumber mata air bersih yang melimpah dan dipagari bukit dengan hutan yang asri.
Kecamatan
Bonehau merupakan pemekaran dari Kecamatan Kalumpang sejak 10 tahun yang lalu.
Jumlah penduduk di kecamatan Bonehau pada tahun 2013 kurang lebih 6.000 jiwa
(versi BKKBN) dengan jumlah penduduk wajib pilih 1.823 jiwa, dan 729 Kepala
Keluarga. Masing-masing jumlah penduduknya, Kalumpang 13.536 jiwa, dan 9.257
jiwa untuk Bonehau. Ini menurut Data Statistik Kabupaten Mamuju 2009.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
1.
Kajian Fenomenologi
Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan pendekatan Fenomenologi. Penelitian ini berlokasi di tiga desa
yakni Tamalea, Pabbettengan, dan Kalumpang. Ketiga desa ini terletak di dua
kecamatan yakni Kecamatan Bonehau, dan Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju,
Provinsi Sulawesi Barat. Kedua kecamatan ini merupakan wilayah masyarakat adat
Tana Lotong. Penelitian ini dilakukan selama dua hari. Adapun Subyek penelitian
berjumlah 2 orang. Subyek pertama adalah
seorang tokoh masyarakat adat Tana Lotong (Subyek A). Subyek kedua adalah
Kepala Desa Pabbettengan, sebuah desa di kecamatan Bonehau (Subyek B).
B.
BATASAN ISTILAH
Dalam
rangka menghindari kesalahan interpretasi dan anggapan yang keliru dari
berbagai pihak terhadap judul dan pembahasan ini, maka peneliti perlu
merumuskan batasan istilah yang digunakan. Adapun batasan istilah yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Altruisme
adalah tindakan mutlak dari manusia, untuk mencapai
suatu sikap pengabdian tanpa pamrih terhadap orang lain atau masyarakat.
2. Masyarakat
adat Tana Lotong (Tanah Subur) adalah masyarakat yang bermukim di desa-desa di
Kecamatan Kalumpang, dan Kecamatan Bonehau di pedalaman Kabupaten Mamuju.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peneliti mendapatkan info tentang Subyek
B dari subyek A. Pada pertemuan pertama, peneliti disambut dengan ramah. Menurut
Subyek B, dalam hubungan antar masyarakat, masyarakat adat Tana Lotong sangat
terbuka dan begitu mentolerir perbedaan.
Altruisme yang terkandung
dalam rumah adat
Adapun
wujud altruisme yang terkandung dalam rumah adat Banua Batang Masyarakat Adat Tana Lotong menurut penuturan Subyek B
yakni:
a) Ada
tiga ruangan di bagian atas, meliputi :
1)
Paladan, semacam ruangan seperti teras untuk menerima
tamu. Paladan tidak berdinding, menandakan keterbukaan masyarakat.
2)
Di bagian atasnya ada tangga semacam perahu untuk naik
ke Sali to Ballaq, merupakan tempat menginap bagi tamu yang berasal dari luar
daerah. Sali (lantai), To Ballaq (orang
luar).
3)
Di sebelah kiri, dan kanan Sali To Ballaq terdapat Sali
Woloq. Sali (lantai), Woloq (warisan) jadi ruangan ini adalah ruang khusus
untuk keluarga.
“....Ada tiga ruangan di bagian atas,
meliputi Paladan, semacam ruangan seperti teras untuk menerima tamu. Paladan
tidak berdinding, menandakan keterbukaan masyarakatnya. Di bagian atasnya ada
tangga semacam perahu untuk naik ke Sali to Ballaq, merupakan tempat menginap
bagi tamu yang berasal dari luar daerah.
Sali artinya lantai, To Ballaq artinya orang luar. Di sebelah kiri
dengan kanannya Sali To Ballaq terdapat Sali Woloq. Sali artinya lantai, Woloq
artinya warisan, ruangan ini adalah
ruang khusus untuk keluarga....”
b) Pondasinya
adalah Batu Lettong, berupa batu yang berbentuk bulat yang harus berasal dari
sungai Karama, atau sungai di sekitar, tidak boleh batu gunung sebab batu ini
sudah tahan uji gempa dan masih alami proses terbentuknya.
“....Pondasinya harus batu Lettong, batu
sungai bisa dari sungai mana saja tapi yang jelasnya biasa dari sungai krama
karna sudah tahan uji, anti gempa dan alami....”
c) Di
atas batu sungai dipasang 8 kayu yang masing-masing dihubungkan dengan satu lok
kayu bundar yang disebut Batang, oleh karena itu rumah ini disebut Rumah
Batang. Sebab didirikan dari 8 kayu bundar jenis kayu besi berdiameter 50-60
cm. Pada tiap-tiap pertemuan dua buah ujung kayu, didirikan tiang utama yang
disebut Busun, dengan diameter yang sama dengan batang kayu bundar.
“....Kayu ini dilubangi hingga menembus batu
lettong, dia menggigit kayu di bawahnya. Tiang Busun berjumlah 8, tidak lebih
tidak kurang. Jika kurang dapat mengakibatkan kepincangan. Di antara
tiang-tiang ini ada tiang induk yang disebut Soko Guru oleh orang jawa, atau
Possiq.....”
d) Adapula
tiang yang disebut To Kamban (orang kebanyakan). Orang-orang inilah yang akan
mendukung kehidupan di kampung. Tiap tiang utama ini memiliki nama, sesuai
dengan nama para To Baraq yang memimpin kampung. Ada To Baraq Timbaq, To baraq
Pondan, To baraq Lolo, Topakkaloq, To Maq Dewata, To tumado, dan Tomakaka,
serta To Kamban. 8 Tiang ini melambangkan kepemimpimpinan kedelapan To Baraq,
dibantu oleh To Kamban (masyarakat lainnya).
“....Adapula tiang yang disebut To Kamban,
yakni orang kebanyakan. Orang-orang inilah yang akan mendukung kehidupan di
kampung. Tiap tiang utama ini memiliki nama, sesuai dengan nama para To Baraq
yang memimpin kampung. Ada To Baraq Timbaq, To baraq Pondan, To baraq Lolo....
delapan tiang ini melambangkan kepemimpimpinan kedelapan To Baraq, dibantu oleh
To Kamban yaitu masyarakat lainnya....”
e) Di
bagian atas dipasang Pelelen (tali yang dipakai saat menyimpan ikan hasil
tangkapan, sejenis benang, atau tasi). Di bagian bawah, ada balok yang
melintang menyangga lantai, disebut Pekaloq. Pekaloq adalah besi yang berbentu
bundar di hidung kerbau. Di atas Pekaloq, ada lettenan, lettenan ini seperti
roda (kayu bundar), di atas Lettenan ada Tu Marang (perantara, diameter 7-10
cm), di atas Tu Marang ada Karatan, yang merupakan pengganjal, di atas karatan
ada tamben yang tingginya 50 cm, tebalnya 10 cm, panjangnya sesuai dengan
panjang rumah. Tamben artinya pagar.
“....Itu di bagian atas dipasangi Pelelen,
itu sejenis tali yang dipakai menangkap ikan dia seperti benang atau tasi atau
sejenis itulah yang diikat Pelelen namanya itu....ada juga balok yang menyangga
lantai yang namanya Pekaloq, itu besi yang biasanya ada ditaro’ di hidung
kerbau...hahaha....”
f) Ada
tiga jenis kayu bundar, yang memberi makna adanya kesatuan yang timbal balik
antara kehidupan duniawi dan kehidupan akhirat artinya adanya kesatuan dan
korelasi antara kehidupan jasmaniah-duniawi, dengan kehidupan
spiritual-akhirat. Ketiganya satu dalam Lada’ (kasih sayang), meliputi:
1)
Lettenan, untuk memuluskan jalan
2)
Tu Marang, untuk semangat dan cita-cita
3)
Karatan, Pemersatu, yang menghubungkan.
“....Ada juga itu semacam tiga kayu bundar
itu namanya Lettenan artinya memuluskan jalan, Tu Marang artinya untuk
semangat, dan cita-cita, serta ada juga karatan itu artinya itu pemersatu....”
g) Dari
pertemuan tamben, berdiri tiang-tiang dinding. Di tiap sudutnya dipasangi Dua
Boriq. Dua Boriq artinya tiap manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan.
Boriq (bagian). Pada bagian untuk membuat kamar, namanya Tallu Boriq yang
memiliki tiga arah artinya manusia memiliki tiga talenta (pertanian, perburuan,
penenunan).
“....Yaa...itu...dua boriq. Boriq artinya
bahagian. Jadi, dua bagian maknanya....tiap manusia mempunyai
keterbatasan-keterbatasan....Tallu Boriq itu dibuat sedemikian rupa mengikuti
bentuk alaminya...Tallu Boriq artinya manusia punya tiga
talenta....hahaha....talenta itu misalnya pertanian, perburuan....”
h) Dinding
rumah ini bersistem panel, antara Dua Boriq dan Tallu Boriq ada Manangnga
(penengah) yang jaraknya kurang lebih
antara 1 meter. Di dalamya diisi papan yang diletakkan harus melintang
(horizontal), ditutup dari atas dengan Rakkapan. Tiap satu meter ditutup satu
Rakkapan (anai-anai/ padi). Tingkat yang kedua dikurangi Sepalaq ( tidak cukup
semeter) makin naik makin dikurangi, tingkat ketiga dikurangi dua palaq.
Semakin ke atas semakin berkurang ukuran Rakkapannya. Maknanya, semakin di
atas, semakin merendah. Bila berada pada kedudukan yang tinggi, maka tidak
boleh sombong. Penggunaan anai-anai padi
pun, mengandung falsafah padi “Semakin Berisi, Semakin Merunduk”. Selain itu
Padi merupakan lambang pertanian, dan makanan pokok masyarakat setempat.
“....Jadi itu Rakkapan namanya....pake
ani-ani itu yang anunya padi. Makin naik tingkatannya, dikurangi sepalaq...naik
lagi dikurangi dua palaq...maknanya yaa...semakin di atas, jangan semakin
sombong....”
i)
Balok terakhir (Blandar) disebut Passamboq (penutup),
ukurannya 20 cmx10 cm. Di atas Passamboq dibuat atap. Ada tiangnya disebut
Petuoq (memberi hidup) Maknanya, di atas manusia ada Yang Maha Kuasa, yang
memberikan kehidupan. Atapnya biasanya dari daun rumbia, daun ijuk,
alang-alang, namun jika dalam kondisi darurat disebut bisa memakai rotan.
“....Balok terakhir itu atau blandarnya
disebut Passamboq..di atasnya itu dibikin atap, tiangnya itu namanya Petuoq
artinya itu yang memberi hidup, maknanya yaa..itu...di atas manusia ada Yang
Maha Kuasa, yang memberikan kehidupan. Biasanya atapnya dari rumbia, daun ijuk,
alang-alang, tapi kalo darurat itu bisa pake rotan juga....”
Yang unik dari bangunan ini adalah ukurannya sangat besar, bisa sampai 60
meter panjang dengan lebar lima meter. Bagian tiang dan kayu di struktur di
bawah lantai, terbuat dari batang-batang kayu yang masih bulat, tidak ada
penggunaan pasak atau paku, dan desain bagian bawah rumah seperti bangunan
tahan gempa. Di zaman dahulu, ada indikasi di daerah ini rawan gempa, sehingga
struktur bangunan dibuat sedemikian rupa. Pembangunan banua batang cukup rumit
dan memakan waktu lama, bisa sampai tahunan.
“....Matematikanya orang dulu nda pake
rumus. Mereka kan buta huruf. Perhitungannya orang di sini itu hanya sepuluh,
tapi bangunannya bisa kokoh dan anu anti gempa lagi...tidak pake paku mulai
dari bawah sampai ke atas tidak ada paku tidak ada... pasak... tidak ada...
ikat....”
Saat ini di Kalumpang dan Bonehau, sepertinya jumlah banua batang bisa
dihitung dengan jari alias jarang ditemukan apalagi yang bagian-bagiannya
lengkap. Menurut Subyek A, kebanyakan Banua Batang habis terbakar pada saat
peristiwa penyerangan gerombolan DI/TII.
Beberapa rumah bahkan hanya bisa memperlihatkan keaslian struktur bagian
bawah atau tiangnya. Sedang bagian tengah, sudah menggunakan struktur modern.
Selain itu, karena bahan yang digunakan harus didatangkan dari hutan, dan
semakin berkurangnya sumber daya untuk pembangunan rumah ini, sehingga
restruksturisasi tak mungkin dilakukan kembali.
“....Kebanyakan Banua Batang habis dibakar
gerombolan DI/TII...sisa satu dua...ada di desa bagian dalam lagi...iya..sudah
kurang bahannya...pernah sempat ada proposal itu...dua proposal untuk bikin
museum banua batang, tapi bagaimana saya bisa sedangkan saya saja tidak tahu
kalau bumi ini bulat, hahaha...seandainya saya ini copernicus...mungkin
bisa....hahaha....”
Dari petikan wawancara di atas dapat diketahui bahwa wujud altruisme rumah
adat masyarakat adat Tana Lotong yang menggambarkan religiusitas, dan
kerendahan hati masyarakatnya.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)
Salah satu wujud altruisme masyarakat
adat Tana Lotong tersirat dalam rumah adat mereka, yaitu Banua Batang yang
menggambarkan keterbukaan dan sifat suka menolong penduduknya.
2)
Banua Batang, sebagai wujud kearifan
lokal di bidang arsitektur mengandung filosofi kepemimpinan delapan orang
Tobaraq yang menjaga keharmonisan, dan keselarasan kehidupan masyarakat adat
Tana Lotong.
3)
Kekerabatan, dan kekeluargaan yang
sangat erat terjalin, serta kerukunan umat beragama yang menyelaraskan
kehidupan masyarakat adat Tana Lotong. Ketika di tempat lain nampak ramai
dengan isu konflik antar agama, maka hal ini tidak ditemukan di daerah
tersebut.
b.
Saran
1) Bagi Subjek Penelitian
Diharapkan
dengan adanya pengetahuan tentang altruisme dapat menjadikan masyarakat
adat Tana Lotong lebih bijak memandang hidup, sehingga berbagai wujud altruisme
ini dapat dijadikan sebagai filter yang dapat meminimalisir efek negatif yang
datang dari luar.
2) Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti yang
ingin tertarik mengadakan penelitian yang sejenis diharapkan dapat
mempertimbangkan faktor-faktor geografis, dan ekologis sehingga penelitian yang
dilakukan dapat lebih maksimal.
3) Bagi Peneliti
Peneliti
berharap agar peneliti dapat kembali melakukan penelitian lebih lanjut,
disertai dengan dukungan dana yang memadai, dan pemandu yang mengenal wilayah tersebut
dengan sangat baik.
DAFTAR
PUSTAKA
1)
Alimuddin, M.R. 2013.
Ekspedisi Bumi Mandar.
2)
http://andipampang.wordpress.com/2012/02/25/ekspedisi-save-our-kalumpang-oleh-harian-fajar (Online, diakses pada tanggal 22 Mei, pukul
01.14)
3)
http://moershaell.blogspot.com/2009/12/pendekatan-fenomenologi-dalam.html (Online, diakses pada tanggal 22 Mei 2014,
pukul 01.11)
4)
http://radar-sulbar.com/sosial-budaya/catatan-ekspedisi-save-our-kalumpang 09kalumpang-dan-bonehau-korban-plta-karama/
(Online, diakses pada tanggal 22 Mei 2014, pukul 01.
55)
5)
Soelaiman, M. Munandar.
2002. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. PT. Refika Aditama: Bandung.
6)
Sudarsyah, Asep. 2013.
Kerangka Analisis Data Fenomenologi (contoh analisis teks sebuah catatan
harian). Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. 14 No.1, 23-25. (Online, diakses
pada tanggal 21 Mei 2014, pukul 02.15)
7)
Wahyuni, Siti. 2012.
Keberagaman dan Makna Nilai Kearifan Lokal sebagai Sumber Inspirasi Pembelajaran
Seni Budaya yang Berkarakter. IKIP PGRI
Madiun, hal 126. (Online, diakses pada tanggal 21 Mei 2014, pukul 02. 35)







0 komentar:
Posting Komentar