Istilah
kecanduan cinta mungkin bukan istilah yang umum terdengar. Istilah yang sudah
umum beredar seperti kecanduan minum, alkohol, narkoba, rokok, kerja, dan
lain sebagainya. Meski pun “barang” nya cinta, bukan berarti aman-aman saja bagi
pecandunya dan tidak membawa dampak apapun juga. Justru, dampak dari
kecanduan cinta ini sama buruknya untuk kesehatan jiwa seseorang. Buktinya,
sudah banyak kasus bunuh diri atau pembunuhan yang terjadi akibat kecanduan
cinta meski korban maupun pelaku sama-sama tidak menyadarinya...Nah, artikel
di bawah ini akan mengulas sekelumit hal-hal yang berkaitan dengan kecanduan
cinta.
 |
WASPADA...LOVE ADDICTED...!!!!
|
Di dalam
masyarakat sudah banyak sekali kesalahan dalam mempersepsi atau mengartikan
cinta sejati dengan cinta yang bersifat candu. Berbagai film, sinetron, atau
pun lagu-lagu turut andil dalam menyaru-kan kondisi kecanduan cinta dengan
cinta sejati. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam pengertian yang keliru
antara kecanduan cinta dengan cinta sejati. Contoh ekstrimnya, ada orang yang
bunuh diri karena ditinggal pergi kekasih – dan orang menilai bahwa cerita
ini mencerminkan kisah cinta sejati.
Pada
umumnya individu yang mengalami kecanduan cinta menunjukkan tanda-tanda:
- Adanya pikiran obsesif,
misalnya terus-menerus curiga akan kesetiaan pasangan, terus- menerus
takut ditinggalkan pasangan sehingga selalu ikut ke mana pun perginya
sang kekasih/pasangan.
- Selalu menuntut perhatian
dari waktu ke waktu, tanpa ada toleransi dan pengertian
- Manipulatif, berbuat sesuatu
agar pasangan mengikuti kehendaknya/memenuhi kebutuhannya, misalnya :
mengancam akan memutuskan hubungan jika mementingkan hobi-nya
- Selalu bergantung pada
pasangan dalam segala hal, apapun juga, mulai dari minta pendapat,
mengambil keputusan sampai dengan memilih warna pakaian
- Menuntut waktu, perhatian,
pengabdian dan pelayanan total sang kekasih/pasangan. Jadi, pasangan
tidak bisa menekuni hobi-nya, jalan-jalan dengan teman-teman
kelompoknya, atau bahkan memberikan sebagian waktunya untuk orang
tua/keluarga.
- Menggunakan sex sebagai alat
untuk mengendalikan pasangan
- Menganggap sex adalah cinta
dan sarana untuk mengekspresikan cinta
- Tidak bisa memutuskan
hubungan, meski merasa amat tertekan karena “berharap” pada janji-janji
surga pasangan
- Kehilangan salah satu hal
terpenting dalam hidup, misalnya pekerjaan atau /keluarga inti demi
mempertahankan hubungan
Jadi,
tidak ada istilah “puas” dalam setiap hubungan yang terjalin antara orang
yang kecanduan cinta dengan pasangannya; ibaratnya seperti mengisi gelas
bocor yang tidak pernah bisa penuh jika diisi, karena begitu airnya dituang
lantas langsung keluar lagi dan airnya tidak pernah luber. Demikian juga
orang kecanduan cinta, mereka tidak pernah mampu membagikan cinta secara
tulus pada orang lain karena selalu merasa kecanduan cinta. Oleh sebab itu,
banyak di antara mereka yang sering berganti pasangan karena merasa harapan
mereka tidak dapat dipenuhi sang kekasih. Padahal, meski puluhan kali mereka
berganti pasangan, individu yang kecanduan cinta akan sulit membangun
hubungan yang stabil dan abadi. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak
sadar, bahwa sumber masalah justru ada pada diri sendiri – mereka lebih
sering menyalahkan mantan-mantan kekasihnya/pasangannya.
Sebenarnya,
kecanduan cinta itu adalah kecanduan yang bersifat psikologis karena tidak
terpenuhinya kebutuhan psikologis (seperti kasih sayang, perhatian,
kehangatan dan penerimaan seutuhnya) di masa kecil. Menurut Erik Erikson -
seorang pakar perkembangan psikososial, orang yang pada masa batita-nya tidak
mengalami hubungan kelekatan emosional yang stabil, positif dan hangat dengan
lingkungannya (baca : orang tua dan keluarga), akan sulit mempercayai orang
lain – bahkan sulit mempercayai dirinya sendiri. Selain itu, trauma psikologis
yang pernah dialami seperti penyiksaan emosional dan fisik pada usia dini,
atau menyaksikan sikap dan tindakan salah satu orang tua yang agresif dan
kasar terhadap pasangan, dapat menghambat proses kematangan identitas
kepribadian dan kestabilan emosinya. Pemandangan dan pengalaman tersebut
kelak berpotensi mempengaruhi pola interaksinya dengan orang lain.
Keterbatasan
respon/perhatian dari lingkungan pada waktu itu, dipersepsi olehnya sebagai
suatu bentuk penolakan; dan penolakan itu (menurut pemahaman seorang anak)
disebabkan kekurangan dirinya. Nah, pada banyak orang, masalah ini rupanya
tidak terselesaikan dan akibatnya, sepanjang hidup ia berjuang untuk
mengendalikan lingkungan atau orang-orang terdekat supaya selalu
memperhatikannya. Orang demikian berusaha membuat dirinya diterima dan
dimiliki oleh orang lain – meski harus “mengorbankan” diri. Orang ini begitu
cemas dan takut jika kehilangan orang yang selama ini memilikinya; karena
perasaan “dimiliki” ini identik dengan harga dirinya – dan sebaliknya ia akan
kehilangan harga diri jika kehilangan pemilik.
Akibat
kecanduan cinta bisa dirasakan secara langsung oleh yang bersangkutan, karena
orang itu tidak dapat menikmati hubungan yang terjalin karena pikiran dan
perasaannya selalu diliputi ketakutan dan kecanduan cinta. Dan tidak jarang
ketakutan tersebut makin tidak rasional dan melahirkan tindakan yang tidak
rasional pula, misalnya tidak memperbolehkan pasangannya pergi kerja karena
takut direbut orang.
Bagi
Individu Bersangkutan
Akibat
jangka menengah dan jangka panjang adalah individu yang bersangkutan akan
berada dalam kondisi emosi yang labil dan menjadi terlalu sensitif. Individu
tersebut mudah curiga pada teman, sahabat, kegiatan, pekerjaan, bahkan
keluarga pasangannya. Selain itu ia menjadi mudah marah, cepat tersinggung
dan bagi sebagian orang bahkan ada yang bertindak agresif dan kasar demi
mengendalikan keinginan dan kehidupan pasangannya. Pasangannya tidak
diijinkan untuk punya agenda tersendiri; pokoknya harus mengikuti
keinginannya dan 100% memperhatikannya. Individu tersebut juga mudah merasa lemah,
lelah dan lemas. Pasalnya, seluruh energinya sudah dipergunakan untuk
mengantisipasi ketakutan yang tidak beralasan dan melakukan tindakan untuk
menjaga pertahanannya. Nah, kehidupan demikian membuat dirinya menjadi
manusia tidak produktif. Sehari-hari yang dipikirkan dan diusahkan hanyalah
bagaimana supaya “miliknya terjaga”.
Banyak
orang yang tidak sadar kalau dirinya terlibat dalam pola hubungan yang
addictive sampai akhirnya ia merasa stress, tertekan namun tidak
berani/takut/tidak berdaya untuk memutuskan hubungan yang sudah berjalan
beberapa waktu. Bagi sebagian orang yang cukup sadar dan mempunyai kekuatan
pribadi, ia akan berani mengambil sikap tegas dalam menentukan arahnya
sendiri. Namun, banyak pula orang yang “memilih” untuk tetap dalam lingkaran
demand-supply tersebut karena ternyata dirinya sendiri juga mengalami masalah
dan kebutuhan yang sama. Jika demikian halnya, maka hubungan yang ada
bukannya mengembangkan dan mendewasakan kedua belah pihak, namun malah
semakin memperkuat kecanduan cinta antar keduanya. Situasi ini lah yang
sering dikaburkan dengan hubungan yang romantis dan cinta buta.
Menurut
para ahli psikologi dan kesehatan mental, salah satu syarat utama untuk dapat
menjalin hubungan yang sehat dan sekaligus menjalani kehidupan yang produktif
adalah mempunyai kesehatan mental yang sehat dan identitas diri yang solid.
Kondisi positif demikian akan menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat
sehingga orang tersebut tidak membutuhkan dukungan dan pengakuan orang lain
untuk memperkuat sense of self-nya. Jadi, untuk mengembalikan seseorang pada
bentuk hubungan yang sehat, langkah awal yang diperlukan adalah memperkuat
pribadinya terlebih dahulu. Dengan meningkatkan sumber kekuatan psikologis
secara internal, akan mengurangi ketergantungannya pada kekuatan eksternal.
Orang itu harus merasa aman dan percaya dengan dirinya sendiri untuk bisa
merasa aman dalam setiap jalinan hubungan dengan orang lain. Ada kalanya,
orang-orang yang kecanduan cinta demikian membutuhkan bantuan para
profesional untuk membimbing dan mengarahkan mereka membangun pribadi yang
positif.
|
0 komentar:
Posting Komentar