RSS
Post Icon

PUISI GALAU








Ijazah hanya sebuah formalitas. 
di dalamnya pun belum sempurna dari buah pikiran bertarung melawan samurai pendidikan. Tenaga,pikiran,dan uang menjadi abu dalam ceritanya. 
Foto yang begitu GAGAH terpampang, dengan dasi yang menjuntai tegas seorang TERDIDIK. 
Namun apalah, arti sekolah,itu tanpa kerja nantinya.
 Inipun masih diriku. Belum kuhitung jutaan pelajar yg berstempel sarjana muda. Terjajah di negeri sendiri. pikirku. Bertameng semangat demi sekoin receh dan senyuman IBU.
AKU UJUNG TOMBAK. tapi, TUMPUL. 
Bertahun menganggur. 
Diriku bak kertas yang terbakar masa.
Cita-citaku tak begitu tinggi. 
Cukup dengan menyekolahkan sebelas sorot mata yang dengan riang memanggilku KAKAK. 
Belaian senyuman mereka. 
Mereka berhak atas kehidupan juga. 
Dan aku. 
Baru memulainya. 
Bismillah...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

OPINI SEORANG 'TEMAN' TENTANG EKSISTENSIALISME & PSIKOLOGI EKSISTENSIAL ( One Night Discussion with "Law Year" )



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

KECANDUAN CINTA



Istilah kecanduan cinta mungkin bukan istilah yang umum terdengar. Istilah yang sudah umum beredar seperti kecanduan minum, alkohol, narkoba, rokok, kerja, dan lain sebagainya. Meski pun “barang” nya cinta, bukan berarti aman-aman saja bagi pecandunya dan tidak membawa dampak apapun juga. Justru, dampak dari kecanduan cinta ini sama buruknya untuk kesehatan jiwa seseorang. Buktinya, sudah banyak kasus bunuh diri atau pembunuhan yang terjadi akibat kecanduan cinta meski korban maupun pelaku sama-sama tidak menyadarinya...Nah, artikel di bawah ini akan mengulas sekelumit hal-hal yang berkaitan dengan kecanduan cinta.


WASPADA...LOVE ADDICTED...!!!!


Kecanduan Psikologis
Di dalam masyarakat sudah banyak sekali kesalahan dalam mempersepsi atau mengartikan cinta sejati dengan cinta yang bersifat candu. Berbagai film, sinetron, atau pun lagu-lagu turut andil dalam menyaru-kan kondisi kecanduan cinta dengan cinta sejati. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam pengertian yang keliru antara kecanduan cinta dengan cinta sejati. Contoh ekstrimnya, ada orang yang bunuh diri karena ditinggal pergi kekasih – dan orang menilai bahwa cerita ini mencerminkan kisah cinta sejati.
Tanda-tanda
Pada umumnya individu yang mengalami kecanduan cinta menunjukkan tanda-tanda:
  • Adanya pikiran obsesif, misalnya terus-menerus curiga akan kesetiaan pasangan, terus- menerus takut ditinggalkan pasangan sehingga selalu ikut ke mana pun perginya sang kekasih/pasangan.
  • Selalu menuntut perhatian dari waktu ke waktu, tanpa ada toleransi dan pengertian
  • Manipulatif, berbuat sesuatu agar pasangan mengikuti kehendaknya/memenuhi kebutuhannya, misalnya : mengancam akan memutuskan hubungan jika mementingkan hobi-nya
  • Selalu bergantung pada pasangan dalam segala hal, apapun juga, mulai dari minta pendapat, mengambil keputusan sampai dengan memilih warna pakaian
  • Menuntut waktu, perhatian, pengabdian dan pelayanan total sang kekasih/pasangan. Jadi, pasangan tidak bisa menekuni hobi-nya, jalan-jalan dengan teman-teman kelompoknya, atau bahkan memberikan sebagian waktunya untuk orang tua/keluarga.
  • Menggunakan sex sebagai alat untuk mengendalikan pasangan
  • Menganggap sex adalah cinta dan sarana untuk mengekspresikan cinta
  • Tidak bisa memutuskan hubungan, meski merasa amat tertekan karena “berharap” pada janji-janji surga pasangan
  • Kehilangan salah satu hal terpenting dalam hidup, misalnya pekerjaan atau /keluarga inti demi mempertahankan hubungan
Jadi, tidak ada istilah “puas” dalam setiap hubungan yang terjalin antara orang yang kecanduan cinta dengan pasangannya; ibaratnya seperti mengisi gelas bocor yang tidak pernah bisa penuh jika diisi, karena begitu airnya dituang lantas langsung keluar lagi dan airnya tidak pernah luber. Demikian juga orang kecanduan cinta, mereka tidak pernah mampu membagikan cinta secara tulus pada orang lain karena selalu merasa kecanduan cinta. Oleh sebab itu, banyak di antara mereka yang sering berganti pasangan karena merasa harapan mereka tidak dapat dipenuhi sang kekasih. Padahal, meski puluhan kali mereka berganti pasangan, individu yang kecanduan cinta akan sulit membangun hubungan yang stabil dan abadi. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak sadar, bahwa sumber masalah justru ada pada diri sendiri – mereka lebih sering menyalahkan mantan-mantan kekasihnya/pasangannya.
Penyebab
Sebenarnya, kecanduan cinta itu adalah kecanduan yang bersifat psikologis karena tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis (seperti kasih sayang, perhatian, kehangatan dan penerimaan seutuhnya) di masa kecil. Menurut Erik Erikson - seorang pakar perkembangan psikososial, orang yang pada masa batita-nya tidak mengalami hubungan kelekatan emosional yang stabil, positif dan hangat dengan lingkungannya (baca : orang tua dan keluarga), akan sulit mempercayai orang lain – bahkan sulit mempercayai dirinya sendiri. Selain itu, trauma psikologis yang pernah dialami seperti penyiksaan emosional dan fisik pada usia dini, atau menyaksikan sikap dan tindakan salah satu orang tua yang agresif dan kasar terhadap pasangan, dapat menghambat proses kematangan identitas kepribadian dan kestabilan emosinya. Pemandangan dan pengalaman tersebut kelak berpotensi mempengaruhi pola interaksinya dengan orang lain.
Keterbatasan respon/perhatian dari lingkungan pada waktu itu, dipersepsi olehnya sebagai suatu bentuk penolakan; dan penolakan itu (menurut pemahaman seorang anak) disebabkan kekurangan dirinya. Nah, pada banyak orang, masalah ini rupanya tidak terselesaikan dan akibatnya, sepanjang hidup ia berjuang untuk mengendalikan lingkungan atau orang-orang terdekat supaya selalu memperhatikannya. Orang demikian berusaha membuat dirinya diterima dan dimiliki oleh orang lain – meski harus “mengorbankan” diri. Orang ini begitu cemas dan takut jika kehilangan orang yang selama ini memilikinya; karena perasaan “dimiliki” ini identik dengan harga dirinya – dan sebaliknya ia akan kehilangan harga diri jika kehilangan pemilik.
Dampak
Akibat kecanduan cinta bisa dirasakan secara langsung oleh yang bersangkutan, karena orang itu tidak dapat menikmati hubungan yang terjalin karena pikiran dan perasaannya selalu diliputi ketakutan dan kecanduan cinta. Dan tidak jarang ketakutan tersebut makin tidak rasional dan melahirkan tindakan yang tidak rasional pula, misalnya tidak memperbolehkan pasangannya pergi kerja karena takut direbut orang.
Bagi Individu Bersangkutan
Akibat jangka menengah dan jangka panjang adalah individu yang bersangkutan akan berada dalam kondisi emosi yang labil dan menjadi terlalu sensitif. Individu tersebut mudah curiga pada teman, sahabat, kegiatan, pekerjaan, bahkan keluarga pasangannya. Selain itu ia menjadi mudah marah, cepat tersinggung dan bagi sebagian orang bahkan ada yang bertindak agresif dan kasar demi mengendalikan keinginan dan kehidupan pasangannya. Pasangannya tidak diijinkan untuk punya agenda tersendiri; pokoknya harus mengikuti keinginannya dan 100% memperhatikannya. Individu tersebut juga mudah merasa lemah, lelah dan lemas. Pasalnya, seluruh energinya sudah dipergunakan untuk mengantisipasi ketakutan yang tidak beralasan dan melakukan tindakan untuk menjaga pertahanannya. Nah, kehidupan demikian membuat dirinya menjadi manusia tidak produktif. Sehari-hari yang dipikirkan dan diusahkan hanyalah bagaimana supaya “miliknya terjaga”.
Bagi Pasangan
Banyak orang yang tidak sadar kalau dirinya terlibat dalam pola hubungan yang addictive sampai akhirnya ia merasa stress, tertekan namun tidak berani/takut/tidak berdaya untuk memutuskan hubungan yang sudah berjalan beberapa waktu. Bagi sebagian orang yang cukup sadar dan mempunyai kekuatan pribadi, ia akan berani mengambil sikap tegas dalam menentukan arahnya sendiri. Namun, banyak pula orang yang “memilih” untuk tetap dalam lingkaran demand-supply tersebut karena ternyata dirinya sendiri juga mengalami masalah dan kebutuhan yang sama. Jika demikian halnya, maka hubungan yang ada bukannya mengembangkan dan mendewasakan kedua belah pihak, namun malah semakin memperkuat kecanduan cinta antar keduanya. Situasi ini lah yang sering dikaburkan dengan hubungan yang romantis dan cinta buta.
Penanggulangan
Menurut para ahli psikologi dan kesehatan mental, salah satu syarat utama untuk dapat menjalin hubungan yang sehat dan sekaligus menjalani kehidupan yang produktif adalah mempunyai kesehatan mental yang sehat dan identitas diri yang solid. Kondisi positif demikian akan menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat sehingga orang tersebut tidak membutuhkan dukungan dan pengakuan orang lain untuk memperkuat sense of self-nya. Jadi, untuk mengembalikan seseorang pada bentuk hubungan yang sehat, langkah awal yang diperlukan adalah memperkuat pribadinya terlebih dahulu. Dengan meningkatkan sumber kekuatan psikologis secara internal, akan mengurangi ketergantungannya pada kekuatan eksternal. Orang itu harus merasa aman dan percaya dengan dirinya sendiri untuk bisa merasa aman dalam setiap jalinan hubungan dengan orang lain. Ada kalanya, orang-orang yang kecanduan cinta demikian membutuhkan bantuan para profesional untuk membimbing dan mengarahkan mereka membangun pribadi yang positif.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Wujud Altruisme pada Rumah Adat Banua Batang Masyarakat Adat Tana Lotong (Sebuah kajian fenomenologi)

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri (Campbell R.L., 2006) .Sehingga altruisme menjelaskan sebuah perhatian yang tidak mementingkan diri sendiri untuk kebutuhan org lain. Jadi, ada tiga komponen dlm altruisme, yaitu loving others, helping them doing their time of need, dan making sure that they are appreciated (Linley, 2006) . Perilaku ini merupakan kebaikkan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri.
Altruisme dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban (de Waal F.B.M., 2008) .Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu, seperti Tuhan, raja, organisasi khusus, seperti pemerintah, atau konsep abstrak, seperti patriotisme, dan sebagainya. Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan.
Pada literatur terdahulu, altruism memiliki hubungan yang erat dengan perasaan empati (Sesardic N., 1999). Seseorang yang altruis memiliki motivasi altruistik, keinginan untuk selalu menolong orang lain. Motivasi altruistik tersebut muncul karena ada alasan internal di dalam dirinya yang menimbulkan positive feeling sehingga dapat memunculkan tindakan untuk menolong orang lain(Gintisa H. B., 2002; Linley, 2006).
Menurut Comte (Campbell R.L., 2006) altruisme adalah tindakan mutlak dari manusia, untuk mencapai suatu sikap pengabdian tanpa pamrih terhadap orang lain atau masyarakat. Sedangkan menurut Rushton (F. D. W. Rushton J.P., Neale M.C., Blizard R.A., Eysenck H.J., 1984; F. D. W. Rushton J.P., Neale M.C., Nias D.K.B, Eysenck H.J., 1986), perilaku altruistik adalah berbagai macam perilaku kebaikkan dalam sehari-hari, dengan berbagi sumber daya yang langka, dan mendahulukan kepentingan atau keselamatan orang lain dibandingkan diri sendiri. berbagai macam perilaku kebaikkan dalam sehari-hari, dengan berbagi sumber daya yang langka, dan mendahulukan kepentingan atau keselamatan orang lain dibandingkan diri sendiri.
          Masyarakat adat Tana Lotong adalah sebutan bagi masyarakat adat yang tersebar di Kecamatan Kalumpang, dan Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Secara geografis, letak wilayahnya sangat terpencil. Kondisi jalan tanah berbatu, melintasi sekitar 20 anak sungai, dan menerobos kanopi hutan. Dengan medan yang cukup rawan, kondisi jalan yang masih dalam tahap perbaikan, dan beberapa anak sungai yang berpotensi meluap menyebabkan akses menuju wilayah masyarakat adat Tana Lotong cukup sulit dijangkau (Kompas.com, 5/9/2012)
  Kondisi geografis yang jauh dari perkotaan tersebut membuat masyarakat adat Tana Lotong saat ini masih tetap eksis berusaha sendiri untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya tanpa menggantungkan harapan dengan dunia luar. Di antara penyebab eksisnya masyarakat adat Tana Lotong sampai saat ini adalah Masyarakat adat Tana Lotong sebagai salah satu komunitas adat yang masih memegang teguh adat istiadat, dan kebudayaan yang turun temurun diwariskan oleh nenek moyangnya. Rumah adat Banua Batang yang mengandung nilai filosofis yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya hingga saat ini. Sebagaimana penuturan Subyek A:
“....Semua bagian rumah punya filosofi, tiap-tiap balok-baloknya dan itulah panjang kalo diuraikan tiap balok punya makna semua....pertama, ada tiga ruangan di bagian atas, meliputi Paladan, semacam ruangan seperti teras untuk menerima tamu. Paladan tidak berdinding, menandakan keterbukaan masyarakatnya....”

            Dari pemaparan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Altruisme yang terkandung pada rumah adat  banua batang pada Masyarakat Adat Tana Lotong.
B.     PERTANYAAN PENELITIAN
Beberapa pertanyaan penelitian berikut ini disusun untuk memberikan arah penelitian agar lebih terfokus pada tema-tema yang terkait. Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan penelitian secara garis besar yang telah disusun:
1.      Bagaimana wujud altruisme yang terkandung di  Masyarakat Adat Tana Lotong?
2.      Bagaimana bentuk wujud altruisme  pada Rumah adat masyarakat adat Tana Lotong?
C.  TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran eksistensi pada wujud altruisme yang terkandung pada masyarakat  adat Tana Lotong.
2. Manfaat
a.       Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat memperluas khazanah pengetahuan di bidang psikologi khususnya psikologi sosial, dan psikologi kepribadian.
b.      Manfaat Praktis
1)      Bagi Masyarakat
Agar masyarakat dapat mengambil pelajaran dari budaya lokal Indonesia yang masih dalam ranah budaya timur, sehingga dapat memperkuat karakter bangsa. Bagi guru
Agar penelitian ini dapat menjadi bahan ajar dalam proses pendidikan moral siswa.
2)      Bagi Orangtua
Agar penelitian ini dapat menjadi kerangka acuan dalam mewujudkan pola asuh yang sehat terhadap anak.
3)      Bagi Masyarakat Adat Tana Lotong
Agar dapat mempertahankan tradisi dan budaya yang dapat memfilter segala pengaruh negatif yang masuk dari luar.
4)      Bagi Peneliti
Agar dapat memahami psikologi timur, yang sebenarnya lebih tepat diterapkan dalam kehidupan Bangsa Indonesia yang berbeda dengan budaya barat.




BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Altruisme
1.      Pengertian
Menurut Walstern, dan Piliavin (Deaux, 1976). Perilaku altruistik adalah perilaku menolong yang timbul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban, melainkan tindakan tersebut bersifat suka rela dan tidak berdasarkan norma–norma tertentu, tindakan tersebut juga merugikan penolong, karena meminta pengorbanan waktu, usaha,uang dan tidak ada imbalan atau pun reward dari semua pengorbanan .
Definisi lain menyebutkan bahwa altruisme adalah tindakan suka rela yang dilakukan oleh seseorang atau pun kelompok orang untuk menolong orang lain tampa mengharapkan imbalan apa pun, kecuali mungkin  perasaan telah melakukan perbuatan baik. Sears dkk,(1994) dengan defenisi ini, apakah suatu tindakan altuistik atau tidak, tergantung pada tujuan penolong, orang yang tidak dikenal mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menolong korban dari mobil yang terbakar, dan menghilang begitu saja, merupakan tindakan altruistik, lebih lanjut dijelaskan perilaku altruistik adalah salah satu dari sisi sifat manusia dengan rela untuk berbuat sesuatu untuk orang lain, tanpa berharap mendapatkan imbalan apa pun, sebaliknya egoisme mengunakan kepentingan sendiri diatas kepentingan orang lain untuk mengejar kesenagan.
Ajaran islam altruisme merupakan tindakan untuk menolong orang lain secara iklas karena islam menilai kebaikan dan perbuatan seseorang berdasarkan keiklasan untuk mengharapkan ridho Allah swt, sehingga setiap amal yang dilakukan hanya semata-mata karena Allah swt, menafkahkan harta ditetapkan sebagai perbuatan baik, dan berpahala besar sebap sanggat bermanfaat untuk orang banyak, tindakan yang dilakukan seperti ini merupakan manifestasi dari bentuk kesolehan sosial.(Tasmara, 2001).
Setiap muslim harus berusaha memberikan kontribusi dan peran nyata yang bermanfaat sehingga menjadikan kehidupan di dalam masyarakat sebagai kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, Rasulullah  saw bersabda bahwa.
“  Sebaik – baiknya manusia adalah yang lebih bermanfaat bagi manusia yang lain “ (H-R Thabrani ).
Sebagai mahluk sosial, seorang muslim diperintahkan untuk memberikan pertolongan dan bantuan kepada sesama. Terdapat kesamaan kesimpulan   Menurut Leeds (Staub, 1978) bahwa suatu tindakan yang dapat dikatakan altruisme apa bila memenuhi tiga kriteria yaitu:
  1. Hasilnya baik bagi penolong maupun yang ditolong
  2. Tindakan tersebut dilakukan secara sukarela tindakan tersebut dilakukan  atas dasar empati bukan karena paksaan
  3. Tindakan itu bukan untuk kepentingan diri sendiri, karena tindakan  tersebut mengandung resiko tinggi pelaku, pelaku tidak mengharapkan imbalan materi, tidak untuk memperoleh persahabatan dan keintiman
Kesimpulannya bahwa prilaku altruisme adalah tindakan diberikankan atau ditujukan  pada orang lain dan memberi manfaat  secara positif bagi orang lain atau orang yang dikenai tindakan tersebut dan dilakukan suka rela tampa mengharapkan imbalan apa pun, atau hanya sekedar untuk persahabatan, sikap ini tidak berdasarkan tekanan atau norma bahkan sikap ini dapat merugikan bagi sipenolong.
B.     Masyarakat Tana Lotong
1.      Pengertian
Masyarakat lokal yang menerapkan cara hidup tradisional di daerah pedesaan, yang nyaris tak tersentuh teknologi umumnya dikenal sebagai masyarakat suku, komunitas asli atau masyarakat hukum adat, penduduk asli atau masyarakat tradisional (Dasmaan dalam M. Indrawan, 2007).
Masyarakat adat Tana Lotong (Tanah Subur). Tana Lotong meliputi desa-desa di Kecamatan Kalumpang, dan Kecamatan Bonehau di pedalaman Kabupaten Mamuju. Masyarakat setempat menyebut diri sebagai masyarakat adat Tana Lotong. Lokasi itu berjarak 135 kilometer dari pusat kabupaten dan provinsi di Mamuju. Sejauh 60 kilometer di antaranya melalui jalan tanah berbatu, melintasi sekitar 28 anak sungai, dan menerobos kanopi hutan. Tanah Lotong artinya tanah subur. Diberkati dengan sumber mata air bersih yang melimpah dan dipagari bukit dengan hutan yang asri.
            Kecamatan Bonehau merupakan pemekaran dari Kecamatan Kalumpang sejak 10 tahun yang lalu. Jumlah penduduk di kecamatan Bonehau pada tahun 2013 kurang lebih 6.000 jiwa (versi BKKBN) dengan jumlah penduduk wajib pilih 1.823 jiwa, dan 729 Kepala Keluarga. Masing-masing jumlah penduduknya, Kalumpang 13.536 jiwa, dan 9.257 jiwa untuk Bonehau. Ini menurut Data Statistik Kabupaten Mamuju 2009.











BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
1.  Kajian Fenomenologi
            Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Fenomenologi. Penelitian ini berlokasi di tiga desa yakni Tamalea, Pabbettengan, dan Kalumpang. Ketiga desa ini terletak di dua kecamatan yakni Kecamatan Bonehau, dan Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Kedua kecamatan ini merupakan wilayah masyarakat adat Tana Lotong. Penelitian ini dilakukan selama dua hari. Adapun Subyek penelitian berjumlah 2 orang. Subyek  pertama adalah seorang tokoh masyarakat adat Tana Lotong (Subyek A). Subyek kedua adalah Kepala Desa Pabbettengan, sebuah desa di kecamatan Bonehau (Subyek B).
B. BATASAN ISTILAH
Dalam rangka menghindari kesalahan interpretasi dan anggapan yang keliru dari berbagai pihak terhadap judul dan pembahasan ini, maka peneliti perlu merumuskan batasan istilah yang digunakan. Adapun batasan istilah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Altruisme adalah tindakan mutlak dari manusia, untuk mencapai suatu sikap pengabdian tanpa pamrih terhadap orang lain atau masyarakat.
2.      Masyarakat adat Tana Lotong (Tanah Subur) adalah masyarakat yang bermukim di desa-desa di Kecamatan Kalumpang, dan Kecamatan Bonehau di pedalaman Kabupaten Mamuju.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peneliti mendapatkan info tentang Subyek B dari subyek A. Pada pertemuan pertama, peneliti disambut dengan ramah. Menurut Subyek B, dalam hubungan antar masyarakat, masyarakat adat Tana Lotong sangat terbuka dan begitu mentolerir  perbedaan.
                  Altruisme yang terkandung dalam rumah adat
Adapun wujud altruisme yang terkandung dalam rumah adat Banua Batang Masyarakat Adat Tana Lotong menurut penuturan Subyek B yakni:
a)      Ada tiga ruangan di bagian atas, meliputi :
1)      Paladan, semacam ruangan seperti teras untuk menerima tamu. Paladan tidak berdinding, menandakan keterbukaan masyarakat.
2)      Di bagian atasnya ada tangga semacam perahu untuk naik ke Sali to Ballaq, merupakan tempat menginap bagi tamu yang berasal dari luar daerah.  Sali (lantai), To Ballaq (orang luar).
3)      Di sebelah kiri, dan kanan Sali To Ballaq terdapat Sali Woloq. Sali (lantai), Woloq (warisan) jadi ruangan ini adalah ruang khusus untuk keluarga.
“....Ada tiga ruangan di bagian atas, meliputi Paladan, semacam ruangan seperti teras untuk menerima tamu. Paladan tidak berdinding, menandakan keterbukaan masyarakatnya. Di bagian atasnya ada tangga semacam perahu untuk naik ke Sali to Ballaq, merupakan tempat menginap bagi tamu yang berasal dari luar daerah.  Sali artinya lantai, To Ballaq artinya orang luar. Di sebelah kiri dengan kanannya Sali To Ballaq terdapat Sali Woloq. Sali artinya lantai, Woloq artinya warisan,  ruangan ini adalah ruang khusus untuk keluarga....”
b)      Pondasinya adalah Batu Lettong, berupa batu yang berbentuk bulat yang harus berasal dari sungai Karama, atau sungai di sekitar, tidak boleh batu gunung sebab batu ini sudah tahan uji gempa dan masih alami proses terbentuknya.
“....Pondasinya harus batu Lettong, batu sungai bisa dari sungai mana saja tapi yang jelasnya biasa dari sungai krama karna sudah tahan uji, anti gempa dan alami....”
c)      Di atas batu sungai dipasang 8 kayu yang masing-masing dihubungkan dengan satu lok kayu bundar yang disebut Batang, oleh karena itu rumah ini disebut Rumah Batang. Sebab didirikan dari 8 kayu bundar jenis kayu besi berdiameter 50-60 cm. Pada tiap-tiap pertemuan dua buah ujung kayu, didirikan tiang utama yang disebut Busun, dengan diameter yang sama dengan batang kayu bundar.
“....Kayu ini dilubangi hingga menembus batu lettong, dia menggigit kayu di bawahnya. Tiang Busun berjumlah 8, tidak lebih tidak kurang. Jika kurang dapat mengakibatkan kepincangan. Di antara tiang-tiang ini ada tiang induk yang disebut Soko Guru oleh orang jawa, atau Possiq.....”
d)     Adapula tiang yang disebut To Kamban (orang kebanyakan). Orang-orang inilah yang akan mendukung kehidupan di kampung. Tiap tiang utama ini memiliki nama, sesuai dengan nama para To Baraq yang memimpin kampung. Ada To Baraq Timbaq, To baraq Pondan, To baraq Lolo, Topakkaloq, To Maq Dewata, To tumado, dan Tomakaka, serta To Kamban. 8 Tiang ini melambangkan kepemimpimpinan kedelapan To Baraq, dibantu oleh To Kamban (masyarakat lainnya).
“....Adapula tiang yang disebut To Kamban, yakni orang kebanyakan. Orang-orang inilah yang akan mendukung kehidupan di kampung. Tiap tiang utama ini memiliki nama, sesuai dengan nama para To Baraq yang memimpin kampung. Ada To Baraq Timbaq, To baraq Pondan, To baraq Lolo.... delapan tiang ini melambangkan kepemimpimpinan kedelapan To Baraq, dibantu oleh To Kamban yaitu masyarakat lainnya....”
e)      Di bagian atas dipasang Pelelen (tali yang dipakai saat menyimpan ikan hasil tangkapan, sejenis benang, atau tasi). Di bagian bawah, ada balok yang melintang menyangga lantai, disebut Pekaloq. Pekaloq adalah besi yang berbentu bundar di hidung kerbau. Di atas Pekaloq, ada lettenan, lettenan ini seperti roda (kayu bundar), di atas Lettenan ada Tu Marang (perantara, diameter 7-10 cm), di atas Tu Marang ada Karatan, yang merupakan pengganjal, di atas karatan ada tamben yang tingginya 50 cm, tebalnya 10 cm, panjangnya sesuai dengan panjang rumah. Tamben artinya pagar.
“....Itu di bagian atas dipasangi Pelelen, itu sejenis tali yang dipakai menangkap ikan dia seperti benang atau tasi atau sejenis itulah yang diikat Pelelen namanya itu....ada juga balok yang menyangga lantai yang namanya Pekaloq, itu besi yang biasanya ada ditaro’ di hidung kerbau...hahaha....”
f)       Ada tiga jenis kayu bundar, yang memberi makna adanya kesatuan yang timbal balik antara kehidupan duniawi dan kehidupan akhirat artinya adanya kesatuan dan korelasi antara kehidupan jasmaniah-duniawi, dengan kehidupan spiritual-akhirat. Ketiganya satu dalam Lada’ (kasih sayang), meliputi:
1)      Lettenan, untuk memuluskan jalan
2)      Tu Marang, untuk semangat dan cita-cita
3)      Karatan, Pemersatu, yang menghubungkan.
“....Ada juga itu semacam tiga kayu bundar itu namanya Lettenan artinya memuluskan jalan, Tu Marang artinya untuk semangat, dan cita-cita, serta ada juga karatan itu artinya itu pemersatu....”
g)      Dari pertemuan tamben, berdiri tiang-tiang dinding. Di tiap sudutnya dipasangi Dua Boriq. Dua Boriq artinya tiap manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Boriq (bagian). Pada bagian untuk membuat kamar, namanya Tallu Boriq yang memiliki tiga arah artinya manusia memiliki tiga talenta (pertanian, perburuan, penenunan).
“....Yaa...itu...dua boriq. Boriq artinya bahagian. Jadi, dua bagian maknanya....tiap manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan....Tallu Boriq itu dibuat sedemikian rupa mengikuti bentuk alaminya...Tallu Boriq artinya manusia punya tiga talenta....hahaha....talenta itu misalnya pertanian, perburuan....”
h)      Dinding rumah ini bersistem panel, antara Dua Boriq dan Tallu Boriq ada Manangnga (penengah) yang jaraknya  kurang lebih antara 1 meter. Di dalamya diisi papan yang diletakkan harus melintang (horizontal), ditutup dari atas dengan Rakkapan. Tiap satu meter ditutup satu Rakkapan (anai-anai/ padi). Tingkat yang kedua dikurangi Sepalaq ( tidak cukup semeter) makin naik makin dikurangi, tingkat ketiga dikurangi dua palaq. Semakin ke atas semakin berkurang ukuran Rakkapannya. Maknanya, semakin di atas, semakin merendah. Bila berada pada kedudukan yang tinggi, maka tidak boleh sombong.  Penggunaan anai-anai padi pun, mengandung falsafah padi “Semakin Berisi, Semakin Merunduk”. Selain itu Padi merupakan lambang pertanian, dan makanan pokok masyarakat setempat.
“....Jadi itu Rakkapan namanya....pake ani-ani itu yang anunya padi. Makin naik tingkatannya, dikurangi sepalaq...naik lagi dikurangi dua palaq...maknanya yaa...semakin di atas, jangan semakin sombong....”
i)        Balok terakhir (Blandar) disebut Passamboq (penutup), ukurannya 20 cmx10 cm. Di atas Passamboq dibuat atap. Ada tiangnya disebut Petuoq (memberi hidup) Maknanya, di atas manusia ada Yang Maha Kuasa, yang memberikan kehidupan. Atapnya biasanya dari daun rumbia, daun ijuk, alang-alang, namun jika dalam kondisi darurat disebut bisa memakai rotan.
“....Balok terakhir itu atau blandarnya disebut Passamboq..di atasnya itu dibikin atap, tiangnya itu namanya Petuoq artinya itu yang memberi hidup, maknanya yaa..itu...di atas manusia ada Yang Maha Kuasa, yang memberikan kehidupan. Biasanya atapnya dari rumbia, daun ijuk, alang-alang, tapi kalo darurat itu bisa pake rotan juga....”
Yang unik dari bangunan ini adalah ukurannya sangat besar, bisa sampai 60 meter panjang dengan lebar lima meter. Bagian tiang dan kayu di struktur di bawah lantai, terbuat dari batang-batang kayu yang masih bulat, tidak ada penggunaan pasak atau paku, dan desain bagian bawah rumah seperti bangunan tahan gempa. Di zaman dahulu, ada indikasi di daerah ini rawan gempa, sehingga struktur bangunan dibuat sedemikian rupa. Pembangunan banua batang cukup rumit dan memakan waktu lama, bisa sampai tahunan.
“....Matematikanya orang dulu nda pake rumus. Mereka kan buta huruf. Perhitungannya orang di sini itu hanya sepuluh, tapi bangunannya bisa kokoh dan anu anti gempa lagi...tidak pake paku mulai dari bawah sampai ke atas tidak ada paku tidak ada... pasak... tidak ada... ikat....”
Saat ini di Kalumpang dan Bonehau, sepertinya jumlah banua batang bisa dihitung dengan jari alias jarang ditemukan apalagi yang bagian-bagiannya lengkap. Menurut Subyek A, kebanyakan Banua Batang habis terbakar pada saat peristiwa penyerangan gerombolan DI/TII.  Beberapa rumah bahkan hanya bisa memperlihatkan keaslian struktur bagian bawah atau tiangnya. Sedang bagian tengah, sudah menggunakan struktur modern. Selain itu, karena bahan yang digunakan harus didatangkan dari hutan, dan semakin berkurangnya sumber daya untuk pembangunan rumah ini, sehingga restruksturisasi tak mungkin dilakukan kembali.
“....Kebanyakan Banua Batang habis dibakar gerombolan DI/TII...sisa satu dua...ada di desa bagian dalam lagi...iya..sudah kurang bahannya...pernah sempat ada proposal itu...dua proposal untuk bikin museum banua batang, tapi bagaimana saya bisa sedangkan saya saja tidak tahu kalau bumi ini bulat, hahaha...seandainya saya ini copernicus...mungkin bisa....hahaha....”
Dari petikan wawancara di atas dapat diketahui bahwa wujud altruisme rumah adat masyarakat adat Tana Lotong yang menggambarkan religiusitas, dan kerendahan hati masyarakatnya.

BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)      Salah satu wujud altruisme masyarakat adat Tana Lotong tersirat dalam rumah adat mereka, yaitu Banua Batang yang menggambarkan keterbukaan dan sifat suka menolong penduduknya.
2)      Banua Batang, sebagai wujud kearifan lokal di bidang arsitektur mengandung filosofi kepemimpinan delapan orang Tobaraq yang menjaga keharmonisan, dan keselarasan kehidupan masyarakat adat Tana Lotong.
3)      Kekerabatan, dan kekeluargaan yang sangat erat terjalin, serta kerukunan umat beragama yang menyelaraskan kehidupan masyarakat adat Tana Lotong. Ketika di tempat lain nampak ramai dengan isu konflik antar agama, maka hal ini tidak ditemukan di daerah tersebut.

b. Saran
1)      Bagi Subjek Penelitian
 Diharapkan dengan adanya pengetahuan tentang altruisme dapat menjadikan masyarakat adat Tana Lotong lebih bijak memandang hidup, sehingga berbagai wujud altruisme ini dapat dijadikan sebagai filter yang dapat meminimalisir efek negatif yang datang dari luar.
2)      Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti yang ingin tertarik mengadakan penelitian yang sejenis diharapkan dapat mempertimbangkan faktor-faktor geografis, dan ekologis sehingga penelitian yang dilakukan dapat lebih maksimal.
3)      Bagi Peneliti
            Peneliti berharap agar peneliti dapat kembali melakukan penelitian lebih lanjut, disertai dengan dukungan dana yang memadai, dan pemandu yang mengenal wilayah tersebut dengan sangat baik.


DAFTAR PUSTAKA

1)      Alimuddin, M.R. 2013. Ekspedisi Bumi Mandar.
2)      http://andipampang.wordpress.com/2012/02/25/ekspedisi-save-our-kalumpang-oleh-harian-fajar (Online, diakses pada tanggal 22 Mei, pukul 01.14)
3)      http://moershaell.blogspot.com/2009/12/pendekatan-fenomenologi-dalam.html (Online, diakses pada tanggal 22 Mei 2014, pukul 01.11)
4)      http://radar-sulbar.com/sosial-budaya/catatan-ekspedisi-save-our-kalumpang 09kalumpang-dan-bonehau-korban-plta-karama/ (Online, diakses pada tanggal 22 Mei 2014, pukul 01. 55)
5)      Soelaiman, M. Munandar. 2002. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. PT. Refika Aditama: Bandung.
6)      Sudarsyah, Asep. 2013. Kerangka Analisis Data Fenomenologi (contoh analisis teks sebuah catatan harian). Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. 14 No.1, 23-25. (Online, diakses pada tanggal 21 Mei 2014, pukul 02.15)
7)      Wahyuni, Siti. 2012. Keberagaman dan Makna Nilai Kearifan Lokal sebagai Sumber Inspirasi Pembelajaran Seni Budaya yang Berkarakter.  IKIP PGRI Madiun, hal 126. (Online, diakses pada tanggal 21 Mei 2014, pukul 02. 35)



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Ciri-ciri orang yang lagi BOHONG (Sharing artikel dari Ruang Psikologi.com

Ini Ciri-Ciri Orang yang Berbohong!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

SEGITIGA AMBIGU

SEGITIGA AMBIGU

Dilema menguasai otakku
disaat harus memilih
dicintai dan mencintai oleh orang yang berbeda
apakah harus kutinggalkan keduanya ?
hingga beban ini sirna
tapi tidak mungkin
karena salah satu dari darinya adalah takdirku seutuhnya

saya manusia biasa yang hanya punya satu cinta
dan tak akan kubagi dengan cinta yang lain
pergilah dan kejar tulang rusukmu
karena aku adalah tulang rusuknya
maafkan cintaku padamu yang kini goreskan pilu
 di bawah kantung matamu yang nanar oleh air mata


 mengapa.....?


Tuhan kau jebak aku
dalam tali cinta segitiga
 aku tak dapat berbuat jauh melepas satu cinta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS